Opini

Terapi Ketenangan Bagi Para Mantan Pelaku Mut’ah

×

Terapi Ketenangan Bagi Para Mantan Pelaku Mut’ah

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Faktainvestigasi.com – Ada masa ketika hati pernah tersesat di jalan yang sempit. Jalan yang dijanjikan akan berakhir dengan bahagia, tetapi justru meninggalkan sepi yang panjang.

Mencari ketenangan setelah melewati masa lalu sebagai pelaku nikah mut’ah bukanlah sekadar melupakan. Ia adalah perjalanan pulang. Pulang kepada Tuhan, pulang kepada diri sendiri, dan pulang kepada kehidupan yang lebih tenteram.

Seperti seseorang yang berjalan jauh di tengah malam, lalu akhirnya menemukan cahaya kecil di ujung jalan. Cahaya itu adalah niat untuk memperbaiki diri.

1. Sisi Spiritual: Mengetuk Pintu Langit dengan Hati yang Lelah

Taubat, sebagai pelukan yang paling sunyi.

Dalam pandangan mayoritas ulama, khususnya Sunni, nikah mut’ah dinilai tidak sah dan dilarang. Jika hati Anda meyakini hal itu, maka akuilah kekhilafan itu di hadapan Tuhan. Sesali dengan tulus. Bertekadlah untuk tidak kembali.

Pintu maaf Tuhan tidak pernah tertutup bagi siapa pun yang mau kembali, meski langkahnya tertatih dan air matanya jatuh diam-diam.

Ibadah, sebagai tempat bersandar.
Selamilah kembali shalat lima waktu dengan khusyuk. Tambahkan shalat taubat dan shalat tahajud di sepertiga malam. Sebab keheningan malam adalah waktu paling jujur untuk menumpahkan segala keluh kesah, tanpa perlu berpura-pura kuat di hadapan manusia.

Al-Qur’an, sebagai obat bagi hati yang gelisah. Membaca, mendengarkan, atau mentadabburi Al-Qur’an adalah seperti menemukan oase di tengah gurun yang gersang. Di sanalah hati yang retak perlahan dijahit kembali oleh ayat-ayat-Nya.

2. Sisi Psikologis: Berdamai dengan Bayangan Sendiri

Hentikan menyalahkan diri sendiri. Masa lalu adalah lembaran yang sudah tertutup, tidak perlu terus dibuka dan dibaca ulang hingga melukai jari-jari kita sendiri. Terus menghakimi diri hanya akan menguras jiwa.

Terimalah bahwa masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup yang menjadikan Anda lebih bijaksana hari ini, lebih peka, lebih berhati-hati dalam melangkah.

Fokuslah pada hari ini dan masa depan. Apa yang Anda lakukan sekarang jauh lebih penting daripada apa yang telah terjadi. Tanamlah kebaikan-kebaikan kecil hari ini, agar esok Anda dapat memanen ketenangan.

Jauhilah pemicu yang menarik ke belakang. Jauhi lingkungan, komunitas, atau kontak yang berpotensi menarik Anda kembali ke lingkaran lama. Bukan karena membenci masa lalu, melainkan karena Anda sedang menjaga diri sendiri agar tidak kembali jatuh di lubang yang sama.

3. Sisi Sosial: Jangan Berjalan Sendirian di Tengah Badai

Carilah lingkungan yang positif

Kelilingi diri Anda dengan sahabat, keluarga, atau komunitas yang mendukung proses hijrah Anda. Majelis taklim, kelompok hobi yang sehat, atau sekadar teman yang mau mendengarkan tanpa menghakimi, adalah cahaya yang menuntun langkah Anda.

Berceritalah jika beban terlalu berat.

Jika perasaan bersalah atau cemas terus membayangi dan mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk bercerita kepada psikolog atau konselor agama yang tepercaya. Sebab luka yang disimpan sendiri hanya akan semakin dalam, sementara luka yang diceritakan akan perlahan sembuh.

Ketenangan tidak datang secara instan, seperti matahari yang tidak langsung terbit begitu saja. Ia datang bertahap, seperti fajar yang perlahan mengusir gelap malam.

Setiap niat baik untuk memperbaiki diri adalah langkah awal yang sangat berharga. Dan setiap langkah itu, sekecil apa pun, sedang dicatat sebagai bukti bahwa Anda tidak menyerah pada masa lalu. (M. Harun)

Penulis adalah Ketua Umum Pena Muslim Bersatu (PMB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *