HALSEL, FaktaInvesigasi – Seekor ikan bubara berukuran jumbo seberat 28,5 kilogram dengan panjang hampir satu meter berhasil ditaklukkan Saidi Jouronga dalam ajang Obi Fishing Tournament (OFT) 2026. Namun, di balik persaingan mendapatkan ikan berukuran besar, turnamen ini juga membawa pesan penting tentang kepedulian terhadap kelestarian ekosistem laut.
Saidi, satu dari 270 peserta Obi Fishing Tournament, tampak kesulitan membawa hasil tangkapannya menuju pos penimbangan di dekat Pelabuhan Panji Baru, Permukiman Baru Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan. Ukuran ikan bubara yang dibawanya bahkan hampir menyamai lebar tubuhnya.
Setelah melalui proses penimbangan, ikan tersebut tercatat memiliki bobot 28,5 kilogram. Hasil tangkapan itu mengantarkan Saidi sebagai peserta dengan perolehan ikan terbesar dalam turnamen yang berlangsung pada 24–25 Oktober 2026, sebagai bagian dari rangkaian Festival Harmoni Obi 2026.![]()
Tak hanya bubara, sejumlah peserta lainnya juga membawa hasil tangkapan beragam jenis ikan, mulai dari kakap merah, kerapu, barakuda hingga giant trevally atau bubara.
Meski kompetisi berburu ikan menjadi daya tarik utama, Obi Fishing Tournament tidak sekadar berorientasi pada besarnya hasil tangkapan. Ajang ini turut mengedepankan edukasi konservasi dengan menerapkan aturan perlombaan yang memperhatikan keberlangsungan biota laut.
Tim Juri Obi Fishing Tournament dari Asosiasi Permancingan Indonesia (APRI), Budi, mengatakan bahwa turnamen tersebut dirancang sebagai salah satu sarana edukasi untuk meningkatkan kesadaran peserta terhadap pentingnya menjaga ekosistem laut.
“Kami menekankan pentingnya kelestarian ekosistem laut dalam turnamen ini melalui aturan jenis tangkapan ikan. Kami tidak hanya mengatur jenis ikan yang menjadi target tangkapan, tetapi juga menetapkan sejumlah ketentuan untuk melindungi biota laut tertentu,” ujarnya.
Budi menjelaskan, berdasarkan ketentuan perlombaan, peserta wajib melepaskan kembali sejumlah jenis ikan, di antaranya pari, hiu, ikan kakatua, dan napoleon. Aturan tersebut menjadi bagian dari upaya mengedukasi peserta agar aktivitas memancing tetap memperhatikan keberlangsungan kehidupan biota laut.
Menurutnya, penerapan aturan yang jelas dalam kompetisi merupakan salah satu cara menyampaikan pesan konservasi secara langsung kepada masyarakat.
“Media edukasi mengenai ekosistem laut yang harus dijaga salah satunya melalui penerapan aturan perlombaan yang jelas. Di balik aturan itu, ada pesan penting bahwa ikan-ikan tertentu tidak boleh ditangkap. Jika terlanjur tertangkap, harus dilepaskan kembali agar tetap hidup dan kelestarian laut tetap terjaga,” jelas Budi.
Pesan konservasi tersebut tidak hanya tertuang dalam aturan tertulis, tetapi juga dipraktikkan langsung oleh para peserta. Sejumlah pemancing memilih mengembalikan ikan yang masuk kategori tangkapan yang wajib dilepaskan ke habitatnya.
Salah satunya dilakukan Harmin Muhammad (37), peserta asal Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan. Saat mengikuti perlombaan, Harmin sempat mendapatkan seekor ikan pari. Namun, ia memutuskan melepaskannya kembali ke laut karena jenis ikan tersebut tidak diperbolehkan menjadi hasil tangkapan dalam kompetisi.
“Saya dapat ikan pari dan saya lepas kembali, karena sesuai aturan lomba ikan jenis itu tidak bisa ditangkap,” ungkap Harmin.
Selain ikan pari, Harmin juga berhasil mendapatkan seekor ikan bubara dengan bobot sekitar empat kilogram. Aksi pelepasan ikan pari tersebut turut didokumentasikan melalui video yang kemudian ditunjukkan kepada panitia sebagai bukti kepatuhan terhadap aturan perlombaan.
Atas hasil tangkapannya, Harmin juga tercatat sebagai salah satu peserta dalam kategori tangkapan unik.
Bagi Harmin, keikutsertaannya dalam Obi Fishing Tournament menjadi pengalaman tersendiri. Meski telah mengenal aktivitas melaut sejak lulus sekolah dasar (SD), ia mengaku memperoleh banyak pengalaman dan pelajaran baru melalui kompetisi tersebut.
“Ini pengalaman pertama saya menjadi peserta Obi Fishing Tournament, banyak pengalaman dan pelajaran yang didapat,” tuturnya.
Praktik serupa juga dilakukan peserta lainnya. dr. Roykedona Lisa, peserta dari kalangan karyawan Harita Nickel, turut melepaskan kembali ikan pari yang diperolehnya saat perlombaan.
Sementara itu, Yuslan Adima, peserta asal Desa Kawasi, memilih mengembalikan seekor ikan hiu yang sempat tertangkap saat memancing.
Seperti Harmin, dr. Roykedona Lisa dan Yuslan Adima juga tercatat sebagai peserta dalam kategori tangkapan unik atas praktik pelepasan kembali ikan tersebut.
Melalui Obi Fishing Tournament 2026, penyelenggara tidak hanya menghadirkan kompetisi memancing yang menarik minat ratusan peserta, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa kekayaan laut bukan sekadar untuk dinikmati, melainkan harus dijaga bersama.
Sebab, di balik setiap aktivitas memancing, terdapat tanggung jawab untuk memastikan ekosistem laut tetap lestari dan kehidupan biota di dalamnya terus terjaga.