Ternate – Peluh keringat terus mengalir membasahi pakaian yang melekat di tubuh. mata Sepanjang memandang tampak lintasan jalur terus menukik tajam ke atas seperti tiada berakhir.
Kerap kali pula, kedua tangan ikut membantu untuk mengangkat tubuh sambil memegang erat akar pohon dan tali yang melintang. Mata dan langkah kaki harus selalu waspada karena di beberapa titik terdapat jurang yang menganga, silap melangkah tubuh akan terhempas jatuh ke bawah.
Namun di sisi lain, keindahan dan kemegahan alam tiada bisa dinafikan. Suara merdu burung yang bernyanyi, kabut turun bersepeda, dan tajuk pepohonan dibelai angin sehingga mengalunkan simfoni.
Itulah kisah secuil perjalanan saat mendaki Gunung Gamalama yang dimulai dari pagi dan berakhir hingga mentari terbenam, Sabtu (20/9/2025). Gunung tropis vulkanis yang masih aktif hingga kini menjadi salah satu destinasi wisata alam di Maluku Utara.
Mengenal Gamalama

Gunung Gamalama yang berada di Pulau Ternate, Maluku Utara merupakan salah satu gunung api yang terdapat di beberapa wilayah kepulauan ini. Merujuk Laporan Penyelidikan Geofisika Gunung Api Gunung Gamalama, Maluku Utara (2008) yang ditulis oleh Yasa Suparman, Gunung Gamalama memiliki ketinggian 1715 mdpl (meter di atas permukaan laut).
Gunung api ini bertipe strato dan tercatat dalam sejarah sejak tahun 1538 memiliki intensitas letusan yang tinggi. Hingga tahun 1770 interval letusan Gunung Gamalama selalu panjang dengan rata – rata lebih dari 10 tahun.
Sejalan beriring waktu, sejak tahun 1771 sampai dengan tahun 1994 interval letusan gunung ini semakin singkat dan pendek. Masa istirahat gunung ini kemudian lebih singkat dalam rentang antara satu hingga dua tahun.
Letusan tersebut terjadi pada umumnya berlangsung di kawah utama dan bersifat magmatik. Kecuali letusan pada tahun 1907 yang terjadi di lereng timur (letusan samping) sehingga menghasilkan muntahan lava yang menghilir ke pantai dan menciptakan ‘Batu Angus’.
Melansir laman Gunung Bagging, untuk mendaki Gunung Gamalama terdapat dua rute pendakian untuk mencapai puncaknya. Rute pertama dari Marikrubu dengan ketinggian sekitar 257 mdpl dan Moya yang memiliki ketinggian sekitar 345 mdpl.
Rute Moya yang berada di wilayah administratif Kecamatan Ternate Tengah menjadi jalur utama yang dilalui oleh para wisatawan untuk mencapai puncak Gunung Gamalama. Untuk mencapai rute Moya dari titik utama Kota Ternate (Landmark) berjarak 4,1 km serta dapat ditempuh menggunakan kendaraan bermotor baik roda dua dan empat.
Menggapai Puncak Gamalama

Gunung Gamalama sendiri merupakan salah satu destinasi wisata alam di Maluku Utara. Untuk mencapai puncak dari rute pendakian Moya dibutuhkan waktu normal 8 hingga 9 jam. (Foto: RRI/KBRN)
Dari start pendakian rute Moya yang dikelilingi pepohonan pala, durian, dan cengkeh untuk mencapai puncak Gamalama terentang jarak kurang lebih 9 km. Meski cukup pendek namun, jangan sangka pendakian Gamalama akan mudah.
Jalur pendakian merupakan rute menanjak seperti tiada akhir. Oleh karena itu dibutuhkan waktu normal tujuh hingga delapan jam untuk mencapai puncak Gamalama.
Jalur yang menantang ini mendapat tanggapan dari salah satu pendaki yang berdomisili di Tangerang Selatan. Manto Sitindaon (29) mengungkapkan tantangan dalam menggapai titik tertinggi di “Kota Rampah” ini.
“Dengan jarak pendakian yang cukup singkat kita mendapatkan banyak variasi jalur dengan level yang berbeda dari 16, 30, 45, ada juga di beberapa bagian yang memiliki tingkat kemiringan hingga 50 derajat ke atas dan itu menjadi pendakian yang menantang,” katanya.
Selain Manto, pendaki lainnya, Livia Irzati (18) asal Ternate juga mengungkap tantangan dalam melakukan pendakian di Gunung Gamalama. Ia berujar melakukan pendakian Gunung Gamalama cukup sulit dilakukan.
“Jalur pendakiannya bisa dibilang susah karena mendaki dan menurun yang curam dan karena semalaman hujan jadi jalur pendakian menjadi licin dan beberapa kali sempat terpeleset,” ungkap Livia.
Keindahan dan Keunikan Titik Tertinggi “Kota Rampah”

Meski memiliki jalur yang menantang, Gunung Gamalama memiliki keindahan yang luar biasa. Gunung vulkanis tropis ini akan membawa para wisatawan takjub melihat keindahannya.
Keindahan tersebut disampaikan Manto dalam lawatan perdananya menjejak Gamalama. Penggiat aktivitas ruang terbuka ini takjub dengan keindahan yang melingkupi Gunung Gamalama.
“Ketika sampai di puncak, kita dapat melihat keindahan gugusan pulau Maluku Utara meski kita di gunung kita dapat menikmati pemandangan laut itu yang paling mahal dari Gunung Gamalama,” ucap alumnus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.
Selain keindahan, pekerja di lembaga nirlaba sosial ini juga mengutarakan keunikan ekosistem Gamalama dibandingkan gunung lain yang pernah dia kunjungi. Selain vegetasi yang masih rapat, vegetasi ketika mendekati puncak memiliki perbedaan khusus dibandingkan gunung lainnya.
“Biasanya kan vegetasi mendekati puncak secara umum pakis ya nah kalo di sini tidak seperti tumbuhan yang menyerupai tebu jadi itu yang menarik,” kata Manto.
Lizia Irzati sebagai masyarakat Ternate juga menyampaikan rasa kagum dan takjub akan keindahan Gamalama. Mendaki Gunung Gamalama merupakan salah satu impian bagi siswi di SMAN Kota Ternate ini.
“Pemandangannya luar biasa apalagi pas turun kabut itu keren sekali, ini wishlist dari dulu untuk bisa mendaki Gamalama dan syukurnya bisa tercapai sekarang,” katanya.
Mempersiapkan Diri

Mendaki gunung merupakan olahraga yang membutuhkan persiapan yang matang baik fisik, mental dan perlengkapan. Merujuk literatur pendakian gunung yang berjudul Mountaineering The Freedom of the Hills, Fifth Edition (1992), pendakian gunung memerlukan persiapan dari berbagai aspek.
Dalam literatur tersebut mendaki gunung tidak hanya tentang melakukan pendakian, melihat pemandangan indah, dan mendapatkan pengalaman beraktivitas di luar ruang terbuka. Melakukan pendakian gunung juga memiliki tantangan, risiko, kesulitan bahkan menyebabkan kematian jika tidak dilakukan dengan tepat.
Oleh karena itu melakukan pendakian gunung memerlukan pengetahuan, persiapan fisik, mental, pengalaman dan etika dalam menjaga lingkungan. Sebagai penggiat aktivitas luar ruang sejak berkuliah, Manto Sitindaon menekankan pentingnya bagi para pendaki untuk memiliki pengetahuan ketika mendaki gunung.

Ia menyyangkan masih ada pendaki yang belum menggunakan peralatan yang memadai seperti menggunakan alas kaki sekedarnya. Manto juga menyampaikan pendapatnya meski ketinggian Gamalama tidak terlalu tinggi namun, para pendaki harus tetap berhati – hati.
“Meski ketinggiannya 1715 mdpl di beberapa bagian jalur kita berjalan di tepi jurang dan karena vegetasinya rapat tentu lembap, rute pendakian menjadi licin dan rawan bagi kita terpeleset jadi saya berharap bagi pendaki untuk memastikan alas kaki agar aman dalam melakukan pendakian,” ucapnya.
Ia juga memberikan pandangan agar tidak melakukan pendakian gunung seorang diri. Melengkapi kebutuhan logistik yang cukup juga seharusnya menjadi perhatian sebelum mendaki gunung.
“Jangan mengingat gunung dengan ketinggiannya karena Gunung Gamalama memiliki tantangan variasi jalur pendakian,” kata Manto yang memiliki pengalaman mendaki gunung di Pulau Sumatra, Jawa hingga ke Sumbawa ini.
