BERITA REDAKSIKementerian

Menbud Dorong Representasi Peradaban Melayu di Kancah Global

×

Menbud Dorong Representasi Peradaban Melayu di Kancah Global

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon saat menghadiri Konferensi Internasional Peradaban Melayu Dunia dengan tema 'Memperkuat Hubungan Kohesif dalam Menghadapi Tantangan Peradaban Baru Dunia', Universitas Nasional (UNAS), Jakarta Selatan, Rabu (17/9/2025). (Foto: Dokumentasi/Kementerian Kebudayaan)

Jakarta – Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menekankan pentingnya representasi peradaban Melayu di kancah global. Menurutnya, peradaban Melayu merupakan salah satu peradaban tua yang kaya akan ragam ekspresi budaya.

“Peradaban Melayu adalah salah satu peradaban tua yang kaya akan ekspresi budaya. Penting untuk memastikan peradaban Melayu tidak hanya dikenang, tetapi juga dihidupkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” kata Fadli dalam keterangan tertulis, Kamis (18/9/2025).

Ia mengatakan, Indonesia memiliki peradaban yang sangat kaya dengan berbagai macam warisan dan ekspresi budaya, terutama Melayu. Di mana hal ini menjadi salah satu identitas penting dalam khazanah kebudayaan bangsa.

Saat ini, Indonesia memiliki 2.213 warisan budaya tak benda nasional dengan potensi 50.000, mencakup tradisi, ritus, hingga manuskrip. Kekayaan budaya meliputi musik, tari, seni pertunjukan, sastra, teater, olahraga tradisional, permainan, dan ekspresi Melayu.

“Banyak sekali ekspresi budaya kita yang sangat kaya yang termasuk di dalamnya adalah budaya melayu. Kekayaan budaya dari Indonesia ini bisa kita sebut sebagai Mega Diversity,” ujarnya.

Melayu merupakan simpul peradaban maritim yang menghubungkan India, Tiongkok, Timur Tengah, Afrika melalui jalur laut. Sejak abad ke-7, Bahasa Melayu berkembang sebagai lingua franca Asia Tenggara, terbukti melalui berbagai prasasti bersejarah.

“Bahasa tersebut terus berkembang dan kemudian diresmikan menjadi Bahasa Indonesia pada Sumpah Pemuda 28 Oktober. Hal ini menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan atau binding power untuk dapat berkomunikasi,” katanya.

Meski demikian, lanjut dia, peradaban Melayu menghadapi berbagai tantangan di tengah arus globalisasi yang sangat cepat. Di antaranya, erosi identitas, pengaruh budaya luar, dan fragmentasi sejarah Melayu perlu menjadi perhatian bersama.

“Ini bisa menjadi satu pembahasan bersama sebagai momentum untuk menguatkan kembali jalinan semangat kohesi dari bangsa-bangsa serumpun Melayu. Melalui solidaritas budaya, kita tidak hanya menjaga warisan bersama, tapi juga menghidupkan kerja sama nyata,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian Masyarakat Universitas Nasional, Ernawati Sinaga berharap generasi muda dapat menjaga budaya Melayu. Khususnya kepada generasi muda yang berani melahirkan gagasan-gagasan baru hingga melahirkan langkah nyata dalam menjaga warisan budaya Melayu.

“UNAS sangat bangga menjadi tuan rumah konferensi internasional pertama tentang peradaban Melayu dunia. Kami berharap kegiatan ini berkelanjutan setiap tahun dan melahirkan gagasan-gagasan baru, hingga langkah nyata dalam menjaga warisan budaya Melayu,” kata Ernawati.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *