BERITA UTAMAKota TernateSejarah

Jejak Wisata Kampung Tua di Kota Ternate “Foramadiahi”

×

Jejak Wisata Kampung Tua di Kota Ternate “Foramadiahi”

Sebarkan artikel ini
Wisata Kampong Tua di Kelurahan Foramadiahi, merupakan kampung tua di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.(Foto: RRI/KBRN)

Ternate – Di lereng selatan Gunung Gamalama, berdirilah sebuah kampung tua yang tidak hanya menyimpan rumah-rumah tradisional, tetapi juga menjadi awal dari sejarah panjang Kesultanan Ternate. Namanya Foramadiahi, bagian dari Kecamatan Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara.

Dari jalan raya, perjalanan ke Foramadiahi memakan waktu sekitar 30 menit. Kendaraan harus menanjak, melewati jalan yang sebagian sudah diaspal. Udaranya sejuk, pepohonan menghampar hijau, dan dari ketinggian ini, Ternate terlihat seperti lukisan yang hidup. 

Foramadiahi berasal dari bahasa Ternate, Fo tike waro madiahi , yang berarti “mencari tahu pasti” atau “kesepakatan menuju kebaikan.” Sebuah nama yang mencerminkan nilai-nilai luhur, menjadi landasan masyarakat sejak dulu.

Bukan hanya sebuah kampung. Ini adalah naskah hidup sejarah Ternate yang menunggu untuk dibaca, dilihat, dan dipahami. Di sini, kekuasaan dulu dibangun dengan musyawarah dan nilai. Dan dari sini pula, kisah kepemimpinan, perlawanan, dan kebudayaan Ternate mengakar dan menyebar ke seluruh pulau-pulau di sekitarnya.

Kini, dengan penduduk lebih dari 1.000 jiwa dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, Foramadiahi tetap berdiri teguh seperti leluhurnya, tenang seperti awan yang memeluk puncak Gunung Gamalama.

Kepala Kelurahan Foramadiahi, Muhlis Abjan, menjelaskan kampung ini telah dinobatkan sebagai Kampung Wisata Budaya. Wisatawan tak hanya dapat mengunjungi makam Sultan Baabullah, namun juga menyaksikan bentang alam yang memukau serta menelusuri jejak sejarah yang begitu kental di setiap sudutnya.

“Foramadiahi disebut kampung tua karena dulunya, para Momole pertama kali sepakat membentuk perkampungan ini. Dari terbentuknya Ternate bermula,” tutur Muhlis, Selasa (9/9/2025).

Foramadiahi bukan sekedar kampung adat. Sejak dahulu kekuasaan awal Kerajaan Gapi, cikal bakal Kesultanan Ternate, mulai terbentuk. Di dataran tinggi inilah hasil musyawarah empat Momole berhasil memilih pemimpin pertama mereka, yang dikenal sebagai Kolano Baab Mashur Malamo.

“Pada titik ini, kekuasaan Ternate lahir. Bukan karena jabatan seorang Kolano, melainkan karena kredibilitas dan kemampuan spiritual seorang pemimpin dalam menjalankan peran strateginya,” kata Rinto Taib, Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate, sekaligus penulis buku Ternate: Sejarah, Kebudayaan dan Pembangunan Perdamaian.

Rinto menambahkan, nilai-nilai moralitas kepemimpinan inilah yang dijaga turun-temurun. Kepemimpinan di Ternate bukan soal kedudukan, tapi soal keberanian, kecakapan, dan pengabdian.

Lebih juah, kata Rinto bahwa sebelum tahun 1610, Foramadiahi pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Ternate. Di tempat ini, 23 Sultan pernah bertahta dimulai dari Kaicil Baab Mashur Malamo hingga Sultan Saiduddin. 

“Era itu juga bersinggungan dengan masa kolonial Portugis, di mana 20 Gubernur Portugis pernah berkuasa di Benteng Kastela (Nostra Senhora del Rosario), yang kala itu menjadi pusat administrasi Spanyol di Maluku,” kata Rinto, mengakhiri.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *