Jakarta – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mendorong organisasi masyarakat Fatayat NU dalam upaya perlindungan anak. Arifah meyakini peran strategis Fatayat NU di Indonesia dapat berperan aktif mencegah anak-anak Indonesia menjadi korban kekerasan.
“Fatayat NU telah membuktikan dirinya sebagai madrasah kepemimpinan perempuan yang unggul dan berakar di masyarakat. Di tengah tantangan sosial yang kompleks, kita butuh kepemimpinan perempuan yang transformatif dan peduli pada masa depan anak di Indonesia,” ujar Menteri PPPA, Arifah Fauzi dalam keterangannya, dikutip Minggu (29/6/2025).
Arifah juga menyoroti berbagai tantangan serius yang dihadapi perempuan dan anak di Indonesia. Apresiasi diberikan Fatayat NU karna telah mencetak pemimpin perempuan muda yang berdaya dan berpihak pada kelompok rentan.
“Fatayat NU memiliki kapasitas sebagai think tank sekaligus komunikator antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Mereka hadir di desa, di kota, bahkan hingga luar negeri, menjadikan mereka ujung tombak dalam transformasi sosial kita,” ujarnya.
“Kami percaya kepemimpinan perempuan dan perlindungan anak adalah fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045. Dengan memperkuat sinergi dan kolaborasi, upaya menciptakan masa depan yang adil, aman, dan setara bagi seluruh anak bangsa dapat terwujud,” kata Menteri PPPA.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU, Margaret Aliyatul Maimunah, menyampaikan Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Ia menegaskan, apapun pilihan peran perempuan di ranah domestik maupun publik, semuanya baik selama kualitas diri terus ditingkatkan.
“Fatayat NU harus hadir di ruang-ruang pengambilan kebijakan agar perspektif perempuan terwakili. Kita ingin mencetak pemimpin perempuan yang berpandangan Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah, berpihak pada pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, serta mampu menjawab tantangan zaman,” katanya.
Pelatihan Kepemimpinan Nasional Fatayat NU 2025 diikuti oleh 115 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka merupakan kader-kader potensial dan tulang punggung gerakan kepemimpinan perempuan muda di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Sumber: KBRN