Kab Halbar

Ratusan Pengungsi Sudah Kembali ke Rumah Mereka Masing-masing

×

Ratusan Pengungsi Sudah Kembali ke Rumah Mereka Masing-masing

Sebarkan artikel ini
Kondisi pengungsi erupsi Gunung Api Ibu di gereja Emanuel Desa Tongute Sungi. (FOTO: KBRN/FAKTA)

HALBAR, FAKTA – Masa tanggap darurat erupsi Gunung Api Ibu tahap tiga masih diperpanjang sampai tanggal 4 Juli 2024 oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, namun sebagian masyarakat pengungsi sudah memilih kembali ke rumah mereka masing-masing.

 

Hal ini seperti yang terjadi di camp pengungsian Gereja Emanuel di Desa Tongute Sungi, Kecamatan Ibu, yang awalnya berjumlah 283 jiwa dari 96 KK namun saat ini jumlah pengungsi tersisa 153 jiwa dari 53 Kepala Keluarga.

 

Kordinator camp pengungsian Gereja Emanuel Desa Tongute Sungi, Deice Makahekung menyatakan, meskipun ada sebagian masyarakat pengungsi telah kembali ke rumah mereka masing-masing, namun ada yang memilih menetap di camp pengungsi ini. Masyarakat pengungsi yang ada ini berasal dari Desa Duono, Goin, Tokuoko, Soa Sangaji , Togoreba sungi, Tuguis dan Sangaji Nyeku.

 

“Alasan mereka memilih kembali ke rumah masing-masing itu karena faktor ekonomi, dimana kebanyakan mata pencaharian mereka adalah petani yang bingung mendapatkan uang dari mana jika masih tetap berada di camp pengungsian berlama-lama,” ungkap Deice Makahekung, Selasa (25/06/2024).

 

Selain itu, lanjut Deice, alasan lain karena orang tua sakit sehingga mereka memilih memulangkan orang tua untuk dirawat di rumah, karena pengungsi yang ada itu kebanyakan lanjut usia (lansia).

 

“Terkadang mereka itu merasa stres jika lama berada di camp pengungsian, karena alasannya kalau sehari tidak berkebun mereka merasa sakit, mungkin mereka sudah terbiasa berkebun,” katanya.

 

Sementara pengungsi yang masih bertahan camp pengungsian, kata Deice, karena merasa takut untuk kembali ke rumah, lantaran Gunung Ibu aktif setiap saat, sehingga sering merasa ada getaran kuat di dalam rumah.

 

“Ketakutan ini jika Gunung Ibu erupsi, getarannya sangat kuat sehingga kami merasa tidak nyaman berada di rumah, makanya kami memilih masih berada di camp pengungsian,” jelas Deice, mengakhiri.

 

AD/KBRN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *