BERITA REDAKSIKota Ternate

Ketua MUI Prof Zubair: Indeks Intoleransi Tak Cerminkan Masyarakat Kota Ternate

×

Ketua MUI Prof Zubair: Indeks Intoleransi Tak Cerminkan Masyarakat Kota Ternate

Sebarkan artikel ini
Prof. Zubair Situmorang Ketua MUI Kota Ternate. (Foto: RRI/KBRN)

Ternate – Masuknya Kota Ternate dalam daftar kota intoleran beberapa waktu lalu dinilai tidak dapat dijadikan indikator utama untuk menilai sikap dan karakter masyarakatnya. Akademisi dan pengamat moderasi beragama, Prof. Zubair Situmorang menegaskan bahwa penilaian tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kebijakan dan peristiwa tertentu, bukan realitas sosial masyarakat secara keseluruhan.

Menurut Prof. Zubair, Kehidupan masyarakat Ternate secara historis dan sosiologis justru mencerminkan nilai-nilai toleransi. Dan kebersamaan di tengah keberagaman agama dan budaya.

“Label atau indeks intoleransi itu tidak serta-merta menggambarkan sikap masyarakat Ternate. Banyak indikator penilaian yang lebih menyoroti aspek kebijakan, regulasi, atau keputusan elit, bukan praktik hidup sehari-hari masyarakat,” ujar Prof. Zubair situmorang, Selasa 27 Januari 2026.

Ia menjelaskan, Ternate adalah kota multikultural dan multireligius yang telah lama terbentuk sebagai ruang perjumpaan berbagai etnis dan keyakinan. Dalam kehidupan sosial, masyarakat terbiasa hidup berdampingan dan saling menghormati perbedaan.

“Kalau kita melihat realitas di lapangan, relasi antarumat beragama di Ternate berjalan harmonis. Rumah ibadah berdampingan, tradisi sosial melibatkan lintas agama, dan konflik berbasis agama relatif bisa dikelola dengan baik,” ucapnya, menjelaskan.

Prof. Zubair menambahkan, indeks atau daftar kota intoleran seharusnya dibaca secara kritis dan dijadikan bahan evaluasi kebijakan, bukan sebagai stigmatisasi terhadap masyarakat. Ia menilai penting bagi pemerintah daerah untuk memperbaiki tata kelola kebijakan publik agar sejalan dengan semangat moderasi beragama yang telah hidup di tengah masyarakat.

“Yang perlu diperkuat adalah kebijakan yang adil, inklusif, dan sensitif terhadap keberagaman. Masyarakat Ternate sudah punya modal sosial yang kuat, tinggal bagaimana negara dan pemerintah daerah hadir memperkuatnya,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa moderasi beragama harus terus didorong melalui pendidikan, dialog lintas iman, serta kolaborasi antara tokoh agama, akademisi, dan pemerintah. Dengan demikian, Ternate tidak hanya dikenal sebagai kota sejarah, tetapi juga sebagai contoh kota multikultural yang mampu merawat keberagaman sebagai kekuatan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *