BERITA UTAMAKab HalbarPeristiwa

Terdampak Bencana Banjir dan Longsor, 1.500 Jiwa Harus Mengungsi

×

Terdampak Bencana Banjir dan Longsor, 1.500 Jiwa Harus Mengungsi

Sebarkan artikel ini
Salah satu lokasi bencana di kampung Cina di Kecamatan Ibu, Halmahera Barat. (Foto: Warga kecamatan Ibu)

Halmahera Barat – Bencana alam banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, yang terjadi pada Rabu 7 Januari 2026 dini hari pukul 04.00 Wit, diakibatkan karena intensitas hujan yang sangat tinggi sejak Selasa 6 Januari dan mengakibatkan ribuan warga ikut terdampak, serta dua orang meninggal dunia.

Berdasarkan laporan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara, ada lima kecamatan dengan total sembilan desa yang terdampak banjir, diantaranya Sahu Timur, Ibu, Tabaru, Ibu Selatan, dan Loloda.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Maluku Utara, Fehby Alting, menyampaikan bahwa jumlah warga terdampak mencapai 3.444 jiwa dari 726 kepala keluarga, dengan 1.500 jiwa harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

“Bencana ini menyebabkan kerusakan rumah warga dalam berbagai kategori serta mengakibatkan dua warga meninggal dunia akibat tanah longsor di Desa Soasio, Kecamatan Loloda,” ucap Fehby dalam laporan resminya.

Fehby menambahkan, wilayah paling terdampak banjir berada di Kecamatan Ibu, khususnya Desa Tongute Ternate dan Desa Gamlamo. Di Desa Tongute Ternate, tercatat sebanyak 1.300 jiwa terdampak, dengan 1.000 jiwa mengungsi. Sebanyak 11 rumah rusak berat dan 100 rumah rusak ringan akibat terjangan banjir.

Sementara itu, di Desa Gamlamo, 1.509 jiwa terdampak dan 500 jiwa mengungsi secara mandiri, dengan kerusakan rumah mencapai 7 unit rusak berat dan 15 unit rusak ringan.

“Tanah longsor di Desa Soasio, Kecamatan Loloda, menjadi peristiwa paling fatal, karena dua warga dilaporkan meninggal dunia. Saat ini akses menuju desa tersebut masih terputus akibat longsoran di ruas jalan Ibu–Kedi, sehingga menyulitkan upaya evakuasi dan penanganan lanjutan,” katanya menjelaskan.

Fehby menyatakan, tim penanggulangan bencana provinsi bersama Bupati Halmahera Barat telah berupaya menuju lokasi, namun belum berhasil karena akses jalan terputus.

“Secara keseluruhan, kerusakan bangunan akibat bencana ini meliputi 34 rumah rusak berat, 3 rumah rusak sedang, dan 286 rumah rusak ringan, serta 1 unit pasar dan 1 unit ruko rusak berat,” katanya.

BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, Dinas Sosial, Kominfo, PLN, dan unsur terkait lainnya telah melakukan evakuasi warga serta penanganan darurat di lapangan. BPBD Halmahera Barat juga telah menyalurkan bantuan awal berupa 1 ton beras dan 500 dus mi instan.

Namun demikian, kondisi di lapangan masih memprihatinkan. Curah hujan dilaporkan masih tinggi, jaringan listrik dan komunikasi terputus di sejumlah wilayah, serta warga mengungsi di rumah penduduk, sekolah, dan balai desa. BMKG memprediksi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah Halmahera Barat hingga 11 Januari 2026.

BPBD merekomendasikan agar Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, segera menetapkan status tanggap darurat, serta memperkuat koordinasi lintas sektor guna mempercepat penanganan dan pemenuhan kebutuhan mendesak masyarakat, seperti tenda, makanan siap saji, selimut, perlengkapan bayi, dan kebutuhan dasar lainnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *