BERITA UTAMAGubernur Malut

Gubernur Sherly Instruksikan Penguatan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

×

Gubernur Sherly Instruksikan Penguatan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

Sebarkan artikel ini
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, bersama Wakil Gubernur Sarbin Sehe, dan Sekretaris Daerah Samsuddin A Kadir, saat memberikan keterangan pers di kantor Gubernur, Sofifi. (Foto: RRI/KBRN)

Ternate – Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh pemerintah kabupaten/kota menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait peningkatan aktivitas gelombang atmosfer dan sirkulasi siklonik pada November 2025.

Instruksi tersebut disampaikan sebagai tindak lanjut Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 300.2.8/9333/SJ mengenai antisipasi cuaca ekstrem di seluruh daerah rawan bencana.

Gubernur Sherly menuturkan bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan, mengingat pola cuaca yang semakin tidak menentu dan berpotensi menimbulkan dampak serius bagi keselamatan masyarakat.

“Saya meminta seluruh bupati dan wali kota bertindak cepat, melakukan pemetaan risiko, dan memastikan seluruh perangkat daerah siaga penuh. Kita tidak boleh menunggu bencana terjadi baru bergerak,” kata Gubernur Sherly Tjoanda dalam imbauannya dikutip dari rri.co.id, Selasa (2/12/2025).

Gubernur Sherly meminta pemerintah daerah segera memetakan wilayah rawan banjir, longsor, rob, dan angin kencang berdasarkan dokumen kajian risiko bencana dan rencana kontingensi masing-masing daerah. Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) serta menyiagakan sumber daya perangkat daerah, lawan, hingga dunia usaha.

“Anggaran BTT wajib disiapkan dan dimanfaatkan secara tepat untuk langkah-langkah mitigasi maupun respon cepat. Jangan sampai kita lengah,” ujar Sherly.

Gubernur juga memposting intensifikasi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat. Pemerintah daerah diminta rutin melakukan simulasi tanggap darurat agar warga dapat mengambil langkah penyelamatan diri saat bencana terjadi.

Menurut Sherly, edukasi masyarakat merupakan elemen penting dalam menekan risiko korban jiwa. “Kesiapan masyarakat harus dibangun. Pemerintah daerah harus hadir memberikan pemahaman yang benar tentang tata cara menghadapi bencana,” katanya.

Seluruh daerah diminta mengaktifkan posko bencana, menyelenggarakan apel siaga, serta melibatkan unsur TNI, Polri, Basarnas, instansi vertikal, relawan kebencanaan, dan organisasi masyarakat.

Instruksi tersebut dipertegas dengan kewajiban publikasi melalui media cetak dan elektronik, agar masyarakat dapat mengomunikasikan tanggapan pemerintah secara terbuka.

Gubernur Sherly kesiapan logistik dan peralatan penanggulangan bencana harus menjadi prioritas, termasuk penggunaan data real-time dari BMKG sebagai dasar langkah operasional di lapangan.

Selain itu, ia meminta pemerintah kabupaten/kota melakukan pemantauan infrastruktur secara berkelanjutan, termasuk normalisasi sungai dan saluran udara, untuk mencegah banjir dan longsor.

Penanganan Cepat Jika Bencana Terjadi

Ketika bencana terjadi, Gubernur Sherly menekankan perlunya langkah cepat pertolongan darurat, pendataan korban dan kerugian, serta menyediakan kebutuhan dasar bagi warga terdampak sesuai standar layanan minimal.

Selain itu, pihaknya menekankan pentingnya penguatan peran camat melalui Gerakan Kecamatan Tangguh Bencana untuk memastikan respons yang cepat di tingkat akar rumput.

Sherly Tjoanda menutup Arahnya dengan meminta seluruh bupati dan wali kota menyampaikan laporan pencegahan bencana secara berkala kepada Kementerian Dalam Negeri, melalui Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat.

“Koordinasi menjadi kunci.Saya mohon seluruh daerah disiplin melaporkan perkembangan agar langkah-langkah kita terarah dan terukur,” ucapnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *