Ternate – Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara melaporkan perekonomian Maluku Utara sepanjang tahun 2025 tumbuh sangat mengesankan meski kondisi global masih belum menunu. Pada triwulan III 2025, ekonomi nasional tumbuh 5,04 persen, sementara Maluku Utara mencatat 39,10 persen, tertinggi di Indonesia.
“Pertumbuhan ini mendorong hilirisasi nikel, yang menyediakan sekitar 95 persen ekspor daerah. Terutama dari Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan,” ucap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Dwi Putra Indrawan, saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Hotel Bela Ternate, Selasa (2/12/2025).
BI juga mendorong penguatan sektor non-tambang seperti perikanan, pertanian, dan pariwisata melalui sejumlah program pengembangan destinasi. Konsumsi masyarakat tetap terjaga berkat stimulus pemerintah, sehingga BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara 2025 berada di kisaran 26,80–30,80 persen.
Inflasi 2025 juga terkendali. Pada bulan November, inflasi tercatat 1,89 persen (yoy), didukung langkah TPID melalui strategi 4K dan 72 kali kegiatan pangan murah.
Untuk UMKM, BI menyelenggarakan Halal Fair pertama di Malut, membangun dua halal center, serta memperkuat pemberdayaan pesantren. Pelatihan dan pendampingan UMKM juga terus digencarkan agar pelaku usaha bisa naik kelas dan go ekspor.
Sementara itu, penggunaan sistem pembayaran digital meningkat pesat dengan 132 ribu merchant QRIS dan menghasilkan transaksi hingga 139 persen. Sebanyak 10 dari 11 pemda di Malut telah masuk kategori digital, bahkan tiga pemda meraih penghargaan nasional terkait elektronifikasi transaksi.
BI merekomendasikan peningkatan investasi, penguatan hilirisasi non-tambang, pengembangan pariwisata, ekspor non-tambang, ketahanan pangan, hingga perluasan sistem pembayaran digital. “Dengan sinergi semua pihak, kami optimistis Maluku Utara dapat tumbuh lebih tangguh dan berdaya saing,” kata Dwi.