Batam – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melakukan panen perdana lobster di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, Rabu (10/9/2025). Kegiatan ini menandai keberhasilan awal program budidaya lobster yang diresmikan setahun lalu oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Wapres mengapresiasi kerja keras semua pihak dan menekankan pentingnya replikasi model budidaya ini di berbagai daerah. “Ke depan saya berharap inovasi dan model seperti ini dapat lebih banyak direplikasi di wilayah lain,” katanya.
Wapres juga mengajak generasi muda terlibat dalam riset dan inovasi sektor perikanan. “Kita harus kuatkan kolaborasi dan sinergi, termasuk menyelesaikan regulasi untuk mencegah penyelundupan lobster, ujarnya.
Wapres berharap ini dapat benar-benar dikawal, dimonitor, dan dieksekusi sebaik mungkin. Panen tersebut berlangsung di Pulau Setokok, Kecamatan Bulang, Batam, yang merupakan kawasan percontohan budidaya lobster.
Di atas lahan seluas tiga hektar, fasilitas ini dilengkapi 144 keramba jaring apung, unit nursery, dan cold room. Kapasitas produksi diperkirakan mencapai 6 ton per siklus setiap tahunnya.
Pada 2023, ekspor lobster Indonesia mencapai 1.144 ton dengan nilai USD23,9 juta. Hingga Oktober 2024, volume ekspor meningkat signifikan menjadi 2.120 ton dengan nilai USD67,8 juta.
Modeling budidaya ini bukan hanya terfokus pada peningkatan produksi (target 40–50 kilogram per lubang). Tetapi juga melibatkan masyarakat lokal dalam penyediaan pakan dan pendederan benih bening lobster (BBL) hingga ukuran siap jual.
Selain di Batam, KKP juga mengembangkan kawasan modeling untuk komoditas unggulan lainnya di berbagai daerah. Misalnya udang di Kebumen, nila di Karawang, rumput laut di Wakatobi dan Maluku Tenggara, serta kepiting di Pasuruan.