Kathmandu – Presiden Nepal, Ram Chandra Poudel, mengundurkan diri dari jabatannya pada Selasa (9/9/2025). Hal yang sama sebelumnya dilakukan Perdana Menteri KP Sharma Oli menyusul protes besar-besaran yang digerakkan oleh Generasi Z.
Di tengah kekacauan politik, militer Nepal diperkirakan akan mengambil alih kendali pemerintahan. Kepala Angkatan Darat, Jenderal Ashok Raj Sigdel, membentuk perdamaian dan meminta pemimpin aksi protes menghentikan kegiatannya.
Gelombang protes ini telah menewaskan sedikitnya 19 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Ratusan demonstran menyerang kantor perdana menteri, merusak rumah para pemimpin politik, serta membakar gedung Mahkamah Agung dan Parlemen.
Massa juga dipenuhi slogan anti-korupsi, menyebut Oli sebagai pencuri dan penjahat bangsa. Seperti diberitakan News18 , kediamannya di Bhaktapur ikut dibakar meski Oli berada di kediaman resmi Balwatar.
Sebelum mengundurkan diri, Oli sempat bertemu dengan seluruh partai untuk membahas krisis politik yang kian memburuk. Dia menegaskan dialog merupakan satu-satunya jalan keluar dari persoalan negara.
Namun, meski pemerintah telah mencabut larangan media sosial dan memberlakukan jam malam, aksi protes justru semakin meluas. Mahasiswa menjadi motor utama pergerakan, menolak larangan berkumpul, dan terus menggelar aksi jalanan.
Mereka menilai pemblokiran media sosial oleh pemerintah merupakan upaya membungkam kebebasan berbicara. Sebelumnya, pemerintah sempat melarang 26 platform termasuk Facebook, YouTube, dan X.
Dengan mundurnya presiden dan perdana menteri, Nepal memegang kendali politik yang besar. Militer bentangan jalan damai, tetapi protes Gen Z masih menggema di jalan-jalan, menandakan kemarahan belum mereda.