Ekonomi & Bisnis

Program Lisdes Dinilai Buktikan Negara Hadir di Pelosok

×

Program Lisdes Dinilai Buktikan Negara Hadir di Pelosok

Sebarkan artikel ini
Pemasangan instalasi listrik di wilayah terluar, terdepan dan tertinggal (3T) yang sulit dijangkau. (Foto: Dokumentasi/PLN)

Jakarta – Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori menilai Program Listrik Desa (Lisdes) merupakan bukti negara hadir menjamin keadilan. Program ini menjadi komitmen pemerintah dalam memperluas akses energi bagi masyarakat wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

“Negara tidak tinggal diam dalam memperjuangkan pemerataan energi ke seluruh penjuru tanah air. Lisdes menjadi langkah strategis dalam mewujudkan keadilan sosial melalui pemenuhan hak dasar masyarakat atas listrik,” kata Defiyan di Jakarta, Senin (25/8/2025)

Komitmen tersebut, kata Defiyan terlihat dari peresmian 55 proyek energi baru terbarukan oleh Presiden Prabowo. Peresmian dilakukan pada 26 Juni 2025 di PLTP Ijen, Bondowoso, Jawa Timur, sebagai simbol akselerasi energi bersih.

Proyek tersebut meliputi delapan PLTP dan 47 PLTS dengan kapasitas total pembangkitan mencapai 380 megawatt (MW). Infrastruktur ini menunjukkan keberpihakan pemerintah pada transisi energi dan penguatan ketahanan energi nasional.

Defiyan menyebut Lisdes menjadi bagian penting dalam distribusi hasil proyek EBT ke berbagai daerah pelosok. Bersama Kementerian ESDM dan PLN, listrik disalurkan ke lebih dari 10.000 titik hingga Juli 2025.

Program Lisdes menjangkau 40 kabupaten dan 18 provinsi, memastikan warga desa terpencil juga merasakan energi modern.

Langkah ini membawa dampak nyata terhadap aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di wilayah tersebut.

“Lisdes bukan sekadar menghadirkan terang di rumah warga, tetapi membawa harapan, kehidupan, dan masa depan lebih baik,” ujarnya.

Penerangan listrik membuka akses pendidikan, pelayanan kesehatan, serta meningkatkan produktivitas warga desa setiap harinya.

Defiyan menilai pencapaian program elektrifikasi nasional sangat luar biasa dalam kurun satu dekade terakhir. Rasio elektrifikasi meningkat dari 84,35% pada 2014 menjadi 99,83% pada akhir 2024 secara nasional.

“Listrik bukan hanya urusan teknis penerangan, tapi fondasi utama kemajuan pendidikan, ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat. Pentingnya pemerataan akses listrik sebagai bagian dari misi berkeadilan sosial di sektor energi,” ucapnya

Baginya, kemerdekaan dari kegelapan bukan slogan kosong, melainkan perjuangan nyata mewujudkan cita-cita pembangunan berkelanjutan. “Lisdes telah membawa cahaya ke desa terpencil, di situlah keadilan sosial mulai benar-benar ditegakkan,” ujar Defiyan


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *