BERITA UTAMABola Kaki

Malut United Buka Mulut Soal Polimik Kepemilikan Stadion Gelora Kie Raha

×

Malut United Buka Mulut Soal Polimik Kepemilikan Stadion Gelora Kie Raha

Sebarkan artikel ini
Stadion Gelora Kie Raha setelah direnovasi dan manjadi aikon sepakbola nasional di Kota Ternate saat ini. Stadion ini sebelum direnovasi PT Malut Maju Sejahtera dan dikelolah oleh MU. (Foto: CERMAT)

Ternate – Malut United (MU) mengisayaratkan kemungkinan pihaknya akan berkandang di luar Maluku Utara, menyusul munculnya polemik kepemilikan aset Stadion Gelora Kie Raha Ternate, Malut. Berkandang itu akan digelar di Kota Ambon, Maluku, hal itu dikatakan Wakil Manajer Malut United, Asghar Saleh, menjadi salah satu opsinya.

“Manajemen lagi lakukan evaluasi, bisa jadi kami pindah ke Ambon, karena Sponsor tim juga saat ini dari Maluku. Soal biaya renovasi (Gelora Kie Raha) yang mencapai puluhan miliar biarlah jadi kerugian kami,” ucap Asghar Saleh.

Diketahui, manajemen Malut United angkat bicara perihal ini seiring menguatnya polemik kepemilikan aset stadion antara Pemerintah Kota Ternate dan Halmahera Barat. Menurut Asghar, dalam MoU untuk kepentingan renovasi stadion awalnya, manajemen mengetahui status Gelora Kie Raha adalah milik Pemkot Ternate.

“Kita lakukan renovasi karena GKR diklaim sebagai aset Pemkot Ternate, Kita berani keluarkan dana besar karena ada penjelasan Pemkot dan semua di atur dalam MoU. Soal belum adanya sertifikat kepemilikan, seharusnya jadi kewenangan Pemkot karena ini aset mereka'” ucap Asghar.

Ia menambahkan semua biaya renovasi murni menggunakan dana PT. Malut Maju Sejahtera (MMS) dan tak ada sepeserpun dana pemerintah yang digunakan. Adapun tujuan merenovasi Gelora Kie Raha agar Malut United dapat pulang ke rumah bermain di Ternate.

“Kita ingin Malut United pulang ke rumahnya di Maluku Utara, karena sejak awal tim ini dibentuk untuk membahagiakan warga yang butuh tontonan sepakbola. Biar Malut United jadi kebanggaan” ujarnya.

Asghar menyatakan, sebelum direnovasi besar-besaran oleh manajemen Malut United, aset stadion tersebut tidak terurus. Ia menggambarkan stadion yang pernah menjadi saksi sejarah hidupnya Persiter Ternate itu, bahkan dipenuhi semak belukar.

Ia pun menyesalkan, setelah stadion direnovasi dan masuk tahun kedua Malut United berkiprah di Liga Indonesia, barulah polemik kepemilikan aset bermunculan. “Mengapa setelah kami bangun, jadi bagus dan digunakan tiba-tiba jadi masalah?, kemana mereka selama ini yang hari ini menyulut polemik,” kata Asghar, bertanya.

Di level nasional, stadion GKR hasil renovasi selalu dipuji publik sepakbola tanah air sebagai salah satu stadion dengan kualitas terbaik. Nama Ternate dan Maluku Utara terdongkrak dan jadi salah satu destinasi sepakbola nasional.

Namun, ironisnya, di Ternate, perdebatan soal Gelora Kie Raha justru terus dipertanyakan. Ia pun menegaskan bahwa Malut United juga tak ingin diseret ke dalam persoalan politik.

“Kami tak ingin Gelora Kie Raha jadi motif politik karena tak ada urusan kami dengan politik. Malut United hanya fokus mengurus sepakbola” ujarnya.

Ia menambahkan, Malut United juga memiliki visi dan rencana besar untuk membangun sepak bola di level usia dini. Saat ini Training Ground sedang dibangun dan telah mencapai 90 persen pengerjaan.

Malut United juga sedang menjalin kerja sama dengan akademi klub asal Portugal, Benfica untuk pengembangan sekolah usia dini di Ternate. Akademi ini bahkan direncakan telah berjalan pada tahun depan.

“Tahun depan mulai berjalan akademi Malut United yang berusia 8-12 tahun. “Prioritas kita ke anak yatim piatu dan mereka yang tidak mampu,” ucap Asghar.

“Targetnya harus ada anak Maluku Utara yang bermain di kompetisi Eropa” kata Asghar. Jadi bukan cuma tentang Liga 1, tapi Ini tentang sepak bola yang bersaing di level dunia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *