Palestina – Setelah mengumumkan rencana mereka untuk menghancurkan dan menguasai Kota Gaza, pasukan rezim Israel dalam beberapa hari terakhir telah melancarkan serangan militer besar-besaran di wilayah Zaitoun.
Serangan itu, yang merupakan bagian dari tujuan militer Israel untuk mengusir warga Palestina dari Gaza, telah menghancurkan sedikitnya 400 rumah dan membuat sekitar 90.000 penduduk mengungsi.
Kota Gaza, rumah bagi sekitar satu juta orang, sekarang menampung hampir 200.000 penduduk yang mengungsi—setengah dari seluruh populasi Jalur Gaza yang terkepung dan dilanda perang.
Kami berbicara dengan Asem Al-Nabih, juru bicara Pemerintah Kota Gaza, untuk memahami situasi di lapangan dan bagaimana pemerintah kota telah mengalihkan fokusnya ke manajemen krisis di tengah genosida yang sedang berlangsung.

Berikut ini kutipan dari wawancara tersebut:
T: Bisakah Anda bercerita sedikit tentang diri Anda dan peran Anda di pemerintahan kota Gaza?
A. Saat ini saya menjabat sebagai juru bicara Pemerintah Kota Gaza, sekaligus anggota Komite Daruratnya.
Sejak Oktober 2023, saya telah bekerja dengan rekan-rekan saya untuk mendokumentasikan kehancuran yang dahsyat, mengoordinasikan tanggapan darurat di bawah tembakan, dan berbicara kepada dunia tentang apa yang terjadi di lapangan.
Peran saya bersifat teknis dan kemanusiaan, mengomunikasikan realitas kehidupan sehari-hari, memperkuat suara orang-orang yang menjadi korban genosida, dan mencoba memobilisasi sumber daya untuk bertahan hidup dan rekonstruksi.
T. Wilayah Gaza mana saja yang dicakup oleh kotamadya ini dan berapa banyak orang yang dilayaninya?
A. Kotamadya Gaza mencakup Kota Gaza, wilayah perkotaan terbesar di Jalur Gaza. Sebelum perang, Kota Gaza berpenduduk sekitar 800.000 jiwa, tetapi kini jumlahnya telah membengkak karena pengungsian dari wilayah utara dan tengah.
Dalam praktiknya, layanan kami kini menjangkau lebih dari satu juta orang yang mencari perlindungan, banyak dari mereka tinggal di tempat penampungan sementara, tenda, atau gedung publik yang padat.
T: Apakah pemerintah kota mampu menjalankan operasinya di tengah genosida yang sedang berlangsung?
A. Kenyataannya, kami belum dapat beroperasi secara normal. Pengeboman Israel yang terus-menerus telah melumpuhkan sistem perkotaan, membuat kami kekurangan bahan bakar dan peralatan, serta menghancurkan banyak fasilitas kami.
Namun kami terus melanjutkan upaya dalam keadaan darurat, dengan fokus pada kelangsungan hidup dasar, mendistribusikan sumber daya air yang langka, menanggapi masalah sanitasi, mengumpulkan sampah padat, dan membersihkan puing-puing untuk membuka jalan yang tersumbat.
T: Apakah ada fasilitas milik Pemerintah Kota Gaza yang menjadi sasaran? Jika ya, bisakah Anda memberi tahu kami bagaimana hal ini memengaruhi operasionalnya?
A. Banyak fasilitas kami menjadi sasaran di tengah perang yang sedang berlangsung. Kantor pusat kota utama kami, beberapa bengkel servis, dan bengkel telah hancur. Bahkan truk pengangkut sampah padat dan buldoser kami pun dibom.
Penargetan yang disengaja ini melumpuhkan kemampuan kami untuk memberikan layanan, terutama pengumpulan sampah dan pemompaan air.
Kehancuran itu bukan merupakan bentuk kolateral, melainkan sistematis.
T. Apa saja layanan utama yang disediakan pemerintah kota Gaza untuk penduduk kota?
A. Secara tradisional, Pemerintah Kota Gaza telah menyediakan berbagai layanan:
● Pasokan air (pemompaan dan distribusi)
● Sanitasi dan pengelolaan limbah
● Pengumpulan sampah padat dan operasi penimbunan sampah
● Pasar umum dan pemeliharaan jalan
● Taman dan ruang publik
Semua ini penting untuk kehidupan perkotaan sehari-hari.
T. Apakah cakupan layanan ini berubah sejak perang genosida dilancarkan di Gaza? Jika ya, bisakah Anda memberi tahu kami lebih lanjut?
A. Sejak perang pecah, layanan kami telah beralih ke manajemen krisis. Alih-alih pengembangan atau pemeliharaan, kami berfokus pada layanan seperti:
● Pompa air, selain jaringan pipa dan sumur air, rusak.
● Inisiatif pengumpulan sampah berkoordinasi dengan organisasi internasional dan masyarakat lokal.
● Solusi teknis sementara untuk mengelola limbah.
● Pembersihan puing darurat untuk membersihkan jalan akses
T. Apa saja tantangan utama yang dihadapi kotamadya Gaza saat ini?
A. Tantangan utama kita di tengah perang genosida yang sedang berlangsung, termasuk pemboman yang terus berlanjut, meliputi:
● Infrastruktur yang hancur, dengan 85 persen fasilitas rusak atau tidak dapat diakses
● Pengungsian yang sangat besar, dengan 75 persen penduduk kehilangan tempat tinggal dan bergantung pada layanan darurat
● Kekurangan bahan bakar, yang melumpuhkan truk sampah dan pompa air
● Risiko kesehatan masyarakat, dengan banjir limbah, hewan pengerat, dan penyakit yang ditularkan melalui air di mana-mana.
T: Anda berbagi dalam sebuah postingan di X bahwa ada kekurangan kursi roda. Apa peran pemerintah kota dalam hal kebutuhan medis dan kemanusiaan?
A. Ini bukan simbolis; ini mencerminkan jumlah besar orang yang diamputasi dan cacat yang disebabkan oleh pemboman Israel.
Kotamadya memiliki satu-satunya pusat layanan semacam itu. Pusat ini didirikan 50 tahun yang lalu. Bekerja sama dengan banyak LSM, kami menyediakan kursi roda, kruk, dan tandu.
Kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengisi kesenjangan kemanusiaan sedapat mungkin.
T: Dapatkah Anda berbagi informasi tentang infrastruktur yang dihancurkan oleh pasukan pendudukan Israel di tengah perang?
A. Kehancuran telah terjadi di banyak daerah.
● Air: 75 persen dari total sumur air di kota dan lebih dari 110.000 meter jaringan air.
● Pembuangan limbah: lebih dari 200.000 meter jaringan pembuangan limbah dan sebagian besar pompa dan stasiun pembuangan limbah.
● Kendaraan berat: 85 persen kendaraan berat dan sedang.
● Jalan dan pasar: 70 persen jalan hancur sebagian atau seluruhnya dan sebagian besar pasar komersial dan jalan telah diratakan.
T. Apakah pemerintah kota telah mampu melakukan perbaikan sejak dimulainya genosida?
A. Perbaikannya minimal. Tanpa bahan bakar, pipa, semen, atau suku cadang, kami tidak dapat membangun kembali. Yang kami lakukan hanyalah menambal sementara, menggali lubang pembuangan limbah jika saluran pembuangan meledak, berimprovisasi dengan pipa plastik, atau mendaur ulang material yang rusak.
Teknisi kami bekerja dengan apa yang ada, tetapi perbaikan sesungguhnya tidak mungkin dilakukan dalam keadaan perang dan blokade.
T: Anda juga membahas masalah hewan pengerat di Gaza. Bisakah Anda menjelaskan lebih lanjut tentang penyebabnya dan kondisi pembuangan limbah dan sampah padat di kota tersebut saat ini?
A. Salah satu tanda paling jelas dari keruntuhan adalah infestasi hewan pengerat. Dengan limbah yang membanjiri jalan-jalan dan tumpukan sampah di setiap lingkungan, tikus telah menyerbu rumah, tempat penampungan, dan sekolah.
Kami mendesak agar racun tikus dan bahan pengendali hama disertakan dalam pengiriman bantuan. Namun, kondisi ini hanya akan semakin memburuk hingga sistem pembuangan limbah dipulihkan.
T: Berapa banyak orang yang telah dilayani oleh pemerintah kota sejak dimulainya perang genosida? Dan apakah ada statistik mengenai jenis layanannya?
A. Sejak dimulainya genosida, kami memperkirakan bahwa pemerintah kota telah menyediakan layanan darurat kepada hampir satu juta penduduk, mulai dari membersihkan puing-puing hingga mendistribusikan air dan mengelola sampah.
T: Bisakah Anda memberi tahu kami lebih lanjut tentang penggalangan dana yang dilakukan pemerintah kota dan tujuannya? Apa yang diperoleh pemerintah kota dari kegiatan tersebut?
A. Kami telah meluncurkan kampanye penggalangan dana yang bertujuan untuk:
● Mengamankan pasokan kemanusiaan dasar seperti tangki air, generator, dan pengendalian hama
● Mendukung pekerjaan darurat bagi pekerja lokal dalam pembersihan puing
● Membeli bahan bakar untuk truk dan pompa air
Sejumlah dana telah sampai kepada kami, tetapi kebutuhannya sangat besar.
T. Mengapa pemerintah kota memutuskan untuk memulai penggalangan dana sendiri alih-alih bergantung pada organisasi internasional?
A. Kami memutuskan untuk meluncurkan penggalangan dana kami sendiri karena organisasi internasional dibatasi oleh politik, birokrasi, dan kontrol Israel atas bantuan.
Dana yang langsung masuk ke pemerintah kota memungkinkan kami bertindak cepat, tanpa menunggu persetujuan berbulan-bulan. Masyarakat percaya kepada kami karena kami langsung terjun ke lapangan.
T. Bagi masyarakat yang belum pernah menyumbang langsung ke pemerintah kota namun ingin menyumbang, di mana mereka dapat menyumbang dan di mana mereka dapat menemukan informasi lebih lanjut tentang bagaimana dana tersebut dibelanjakan?
A. Bagi yang ingin berdonasi, silakan temukan informasinya di kanal resmi Pemerintah Kota Gaza, termasuk halaman media sosial kami yang terverifikasi. Kami secara berkala menerbitkan informasi terbaru tentang penggunaan dana.
T. Ketika pasukan pendudukan Israel mengancam akan menghancurkan Kota Gaza dan mengambil alih kendali kota tersebut, apa artinya ini bagi penduduk Kota Gaza, yang merupakan rumah bagi 1 juta orang, hampir separuh dari seluruh penduduk Jalur Gaza?
A. Ini akan menjadi bencana bagi hampir satu juta orang. Sebagian besar dari mereka sudah mengungsi, tidak memiliki tempat berlindung yang aman.
Kota itu menjadi tempat perlindungan terakhir setelah berbulan-bulan dibombardir, dan kehancurannya akan memaksa warga sipil pindah ke daerah yang sudah tidak layak huni dan dikepung.
Memaksa satu juta orang melewati kemacetan ini akan berarti kelaparan massal, dehidrasi, dan kematian yang dapat dicegah, terutama di kalangan anak-anak, orang tua, dan yang terluka.
Pesan terakhir saya adalah Gaza bukanlah reruntuhan, melainkan manusia: Terampil, tangguh, dan bertekad untuk membangun kembali jika diberi kesempatan.
Jika perbatasan dibuka, kita bisa membangun kembali kota kita lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun. Yang kita minta dari dunia bukanlah belas kasihan, melainkan solidaritas dan pencabutan rantai yang membelenggu kita dalam genosida.
Sumber: Presstv.ir