Ternate – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah mulia untuk membangun generasi emas 2045. Untuk itu, keberhasilannya membutuhkan kolaborasi erat antara pihak pemberi dan penerima manfaat di sekolah.
Asisten I Setda Maluku Utara, Kadri Laetje, menegaskan bahwa makanan yang tiba di sekolah harus segera diamati secara visual (organoleptik), dan jika tidak ditemukan masalah, harus segera dikonsumsi.
“Jangan ditunda-tunda, yang ditunda itu mengajarnya. Tapi makanan jangan ditunda sehingga tidak terjadi penurunan mutu. Makanan yang sudah dimasak tidak boleh lama disimpan, apalagi di ruangan yang tidak memenuhi standar sanitasi dan higienis,” tegas Kadri, Senin (4/8/2025).
Kadri yang juga alumnus Fakultas Perikanan Universitas Pattimura dengan predikat cum laude, sekaligus pernah belajar gizi dan pakar mutu pangan, menjelaskan bahwa MBG bukan sekadar untuk mencegah stunting, melainkan juga untuk meningkatkan kecerdasan anak-anak.
Mengutip riset dari Times Editorial oleh James Flynn, ia menyebut bahwa asupan gizi yang cukup mampu meningkatkan IQ anak hingga 15 poin.
“Substansinya adalah pengolahan harus tepat, penanganan harus cermat, dan konsumsi harus cepat,” ucapnya.
Mantan Pjs. Bupati Halmahera Selatan ini memperingatkan bahwa makanan yang dibiarkan lebih dari tujuh jam tanpa penanganan berisiko terkontaminasi bakteri seperti E. coli dan Coliform, yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada anak-anak.
“Ketika MBG sampai di sekolah, segera dikonsumsi. Jangan ditunda-tunda lagi. Tunda mengajarnya dulu 15 menit, tapi konsumsi jangan ditunda,” kata Kadri.
Dengan tata kelola yang tepat, Program MBG diharapkan bukan hanya menjaga kesehatan, tetapi juga mendongkrak kualitas kecerdasan anak bangsa menuju Indonesia Emas.
Sumber: RRI Ternate