Sosok

Generasi Cerdas Digital Menuju Indonesia Emas 2045

×

Generasi Cerdas Digital Menuju Indonesia Emas 2045

Sebarkan artikel ini
Rosita Alting, Ketua Muslimat NU Maluku Utara. (Foto: Dok Rosita)

Catatan Retrospeksi Hari Anak Nasional, 23 Juli 2025

“Anak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar dan alami. Maka ciptakan ekosistem positif pada dunia-nya, termasuk dunia maya” (Mark Twain).

KBRN, Ternate: Setiap tahun, tepatnya 23 Juli, kita memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Dalam konteks global, hari anak juga diperingati oleh masyarakat dunia. Dan pertama kali ditetapkan pada 1954, sebagai Hari Anak Universal (dunia). Yang dirayakan pada 20 November, untuk membangun kesadaran di antara anak-anak se dunia.

Dalam konteks Indonesia, Hari Anak menawarkan kepada kita sebuah pintu masuk untuk mengadvokasi, mempromosikan, dan merayakan hak-hak anak, yang diwujudkan dalam bentuk dialog dan tindakan untuk membangun dunia yang ramah bagi anak.

Hemat saya, bagi para ayah dan ibu, guru, perawat dan dokter, pemimpin pemerintah dan aktivis masyarakat sipil, pemuka agama dan masyarakat, dan profesional media, serta anak muda. Dapat memainkan peran dalam menjadikan Hari Anak lebih fungsional bagi komunitas, dan negara.

Ada empat masalah anak, yang menjadi sorotan pada setiap peringatan HAN. Diantaranya; Rendahnya akses anak pada pendidikan (SMP), Rendahnya status gizi anak, Praktik perkawinan usia dini, Serta maraknya kekerasan terhadap anak. Keempat hal ini sering menjadi tema utama.

Namun tulisan ini mencoba melihat kecerdasan digital anak, sebagai salah satu sub tema HAN. Dampak gadget (digital) positif dan negatifnya. Dan bagaimana keterlibatan orang tua, sekolah dan masyarakat dalam membangun generasi cerdas digital, yang menjadi salah satu pilar menuju Indonesia emas.

Tagline Hari Anak tahun 2025 ini adalah “Anak Hebat, Indonesia Kuat, Anak Cerdas Digital, Pendidikan Inklusif untuk Semua, Menuju Indonesia Emas 2045.” Demikian yang dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Dari tema yang sedikit panjang tersebut, mengisyaratkan pentingnya perlindungan anak, tidak hanya secara fisik, tetapi juga di dunia maya.

Yang unik dari tahun sebelumnya, dimana peringatan dirayakan secara terpusat. Saat ini dirayakan secara menyeluruh dari Sabang sampai Merauke. Termasuk di Maluku Utara dengan pertimbangan, pentingnya semangat Hari Anak Nasional secara merata.

Berdasarkan hasil kajian Vivaldi yang merujuk pada hasil studi Syifa dkk (2018). Digital (Gadget) memberi dampak positif pada perkembangan anak, seperti meningkatkan kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan berdampak positif terhadap perkembangan psikologi anak, dalam ranah kognitif dan afektif.

Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa anak SD dapat dengan mudah mencari informasi tentang pembelajaran berkomunikasi dengan teman sebaya melalui gadget. Kemudahan dalam mengakses informasi dapat meningkatkan kreativitas dan pengetahuan anak.

Selanjutnya, dapat mendukung anak untuk belajar secara mandiri. Anak dapat mencari informasi, membaca buku digital, dan mengeksplorasi dunia dengan lebih luas. Selebihnya, gadget menawarkan peluang untuk pembelajaran interaktif. Aplikasi edukatif dapat membantu anak-anak dalam memahami konsep-konsep visual secara menarik yang menunjang daya tangkap anak terhadap pelajaran.

Selain itu, digitalisai dapat membantu perkembangan fungsi adaptif anak. Dalam penelitian Yumarni (2022) dijelaskan, perkembangan kemampuan adaptif anak bisa didukung melalui kemampuan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan perkembangan zaman. Pada zaman digital ini, anak diharapkan mampu menguasai cara menggunakan gadget dan dapat mengikuti perkembangan teknologi.

Terakhir, gadget dapat memberikan dampak positif bagi motorik dan kognitif anak, Rahayu dkk. (2021) menjelaskan dampak menguntungkan pada kemampuan motorik anak dapat diamati dari aspek keterampilan motorik yang melibatkan otot-otot kecil, seperti pergerakan pada bibir, jari, dan pergelangan tangan. Anak-anak‒secara tidak langsung‒melakukan pelatihan otot jari ketika berinteraksi dengan gadget, yaitu saat penggunaan layar sentuh, mengetik dan menulis digital serta permainan interaktif.

Sedangkan dampak negatif penggunaan gadget terhadap tumbuh kembang anak. Berdasarkan studi Rahayu dkk. (2021) yang disbutkan oleh Aurel Ramadhan:

Pertama, gadget dapat menghambat perkembangan bicara dan bahasa anak. Hal ini terjadi karena anak menghabiskan waktu lebih banyak di depan layar gadget, ketimbang berinteraksi dengan temannya yang dapat melancarkan berbicara dan berbahasa. Akibatnya, anak jarang berinteraksi dengan orang lain, dan mengakibatkan kurangnya kemampuan bicara dan bahasa anak.

Kedua, penggunaan gadget secara berlebihan dapat berdampak negatif terhadap pembentukan karakter anak. Rahayu dkk. (2021) menjelaskan bahwa pengaruh buruk pada pembentukan karakter anak dapat disebabkan oleh penggunaan gadget melalui konten-konten yang kurang baik. Seperti video-video di platform Youtube yang dapat mengakibatkan anak berperilaku kurang sopan dan berkata kasar.

Ketiga, kelebihan menggunakan gadget dapat mengganggu fungsi prefrontal cortex anak. Dengan anak kecanduan dengan gadget, otak pada anak dapat menyekresi hormon dopamin secara berlebihan yang dapat mengakibatkan fungsi prefrontal cortex menjadi terganggu. Hal ini dapat mempengaruhi wilayah dalam otak‒secara negatif‒yang mengendalikan emosi, regulasi diri, tanggung jawab, pengambilan keputusan, dan prinsip-prinsip moral lainnya.

Lantas apa yang bisa dilakukan orang tua, lembaga pendidikan dan masyarakat dalam membangun ekosistem anak yang cerdas literasi digital?

Kecerdasan digital (digital intelligence) bagi anak mengacu pada kemampuan anak-anak untuk menggunakan teknologi digital dengan bijak, aman, dan bertanggung jawab. Ini mencakup pemahaman tentang etika digital, literasi media, serta kemampuan untuk berinteraksi secara positif dan aman di dunia maya.

Ini penting Karena Saat ini, anak tumbuh di ruang digital yang tidak selalu dalam pengawasan orang dewasa. Di Indonesia, dari 221 juta konsumen internet lebih dari 9 persen adalah anak-anak di bawah 12 tahun. Kondisi ini menempatkan anak-anak di posisi rentan terpengaruh konten-konten berbahaya. Karena itu, di samping kontrol orang tua terhadap penggunaan internet, perlu ditekan pentingnya edukasi literasi digital sejak dini.

Peran Orang Tua
Keluarga adalah lingkungan pertama bagi anak untuk belajar. Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk kecerdasan digital anak.

Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:

Memberikan contoh yang baik. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua. Menggunakan teknologi secara bijak, seperti membatasi waktu layar dan tidak menyebarkan informasi tanpa verifikasi, akan menjadi teladan bagi mereka.
Mengajarkan Literasi Digital. Kenalkan anak pada konsep dasar literasi digital, seperti cara menggunakan internet dengan aman, memilih sumber informasi yang terpercaya, dan memahami etika dalam berkomunikasi di dunia maya.
Mengawasi Aktivitas Gadget. Orang tua perlu terlibat aktif dalam memantau aktivitas online anak, tanpa menginvasi privasi mereka. Ini dapat dilakukan dengan berdiskusi secara terbuka tentang apa yang mereka lakukan di dunia digital.
Peran Sekolah/Lembaga Pendidikan
Sekolah juga memegang peran penting dalam membangun generasi cerdas digital. Dengan kurikulum yang terintegrasi teknologi, anak-anak dapat belajar menggunakan perangkat digital untuk mendukung pembelajaran mereka.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan sekolah adalah:

Mengintegrasikan Teknologi ke Dalam Pembelajaran. Guru dapat menggunakan platform e-learning atau alat digital untuk membuat proses belajar lebih interaktif dan menarik. Gadget dapat mendukung anak untuk belajar secara mandiri melalui akses tak terbatas ke informasi. Anak dapat mencari informasi, membaca buku digital, dan mengeksplorasi dunia dengan lebih luas.
Mengajarkan Keamanan Siber. Pendidikan tentang pentingnya menjaga data pribadi, menggunakan password yang kuat, dan mengenali ancaman siber perlu dimasukkan dalam kurikulum.
Mendorong Kolaborasi Digital. Proyek kelompok berbasis dapat membantu siswa belajar bekerja sama secara online, keterampilan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja modern.
Peran Masyarakat
Peran masyarakat dalam Membangun Ekosistem Digital yang Positif. Adalah dapat dilakukan dengan cara:

Menyediakan Akses Internet yang Aman. Pemerintah dan penyedia layanan internet perlu memastikan bahwa akses internet yang tersedia mendukung pembelajaran dan aktivitas positif.
Mengadakan Pelatihan Digital. Komunitas dapat menyelenggarakan pelatihan keterampilan digital untuk anak-anak dan remaja, sehingga mereka lebih siap menghadapi dunia digital.
Melawan Penyebaran Hoaks. Kampanye melawan hoaks dan disinformasi perlu digencarkan agar generasi muda terbiasa untuk selalu memverifikasi informasi sebelum mempercayainya.
Akhirnya, membangun generasi yang cerdas digital adalah investasi jangka panjang untuk masa depan. Dengan kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kita dapat menciptakan ekosistem digital, yang mendukung tumbuh kembang anak-anak. Generasi yang cerdas digital tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menciptakan dampak positif bagi dunia.

Dengan langkah-langkah ini, kita dapat memastikan bahwa generasi mendatang siap menghadapi tantangan era digital dan mampu meraih peluang untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Momentum Hari Anak Nasioanal tahun 2025, dapat dimanfaatkan sebagai sarana meningkatkan kemampuan literasi digital anak-anak. Mengingat, semakin banyak kegiatan anak baik di lingkungan sekolah maupun di rumah yang melibatkan teknologi digital.

Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah dengan lembaga terkait, orang tua, guru, dan masyarakat agar tercipta ruang digital yang bersahabat dan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Hal ini dilaksanakan demi melindungi dan mempersiapkan masa depan generasi muda Indonesia, menjadi generasi emas. Wallahu’alam.

Oleh : Rosita Alting (Ketua Muslimat NU Maluku Utara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *