Ternate – Anggota Komisi III DPRD Kota Ternate, Nurlaela Syarif, mendorong pengintegrasian Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dengan rumah yatim piatu di Kota Ternate. Hal ini dikatakan Nurlaela agar anak-anak yang berstatus siswa di rumah yatim piatu dapat terakomodasi masuk ke Sekolah Rakyat (SR).
“Sebelum sekolah rakyat ada, kita sudah memilki rumah yatim piatu dan panti asuhan. Apakah DTKS yang menjadi rujukan perekrutan sekolah rakyat sudah terkorelasi dengan Rumah Yatim Piatu?,” kata Nela, sapaan akrab Nurlaela, ditulis Sabtu (19/7/2025).
Menurut Nela, anak-anak yang menempati rumah yatim piatu salah satunya Panti Budi Sentosa, sistem pendidikannya menggunakan asrama layaknya sekolah rakyat. Hanya yang membedakan, anak-anak di Panti Budi Sentosa rata-rata menempuh pendidikan di sekolah umum.
“Mereka juga system asrama, tetapi bersekolah di sekolah umum. Jadi, mereka bersekolah seperti biasa, dan pulangnya mereka tinggal di asrama (Panti Budi Sentosa),” ujar Nela, menjelaskan.
Secara spesifik, Senator dari Fraksi NasDem ini mengaku prihatin dengan kondisi Panti Budi Sentosa dan Rumah Sejahtera. Dalam beberapa kunjungan pengawasannya, Ia mendapati pengelolaan di panti milik pemerintah provinsi itu tak berjalan maksimal.
‘Saya pernah turun di panti milik provinsi depan Bank Indonesia. Itu pun dari aspek pengelolaannya, mohon maaf saya harus katakan sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Nela pun mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi yang ia temui dalam kunjungan tersebut. Menurutnya, pengelolaan terhadap panti yang dihuni oleh anak dari kalangan tidak mampu dan kategori miskin harus dijalankan secara baik.
“Mohon maaf saya harus katakan, pemerintah kadang asal-asalan dalam mengelola orang miskin, yang penting menggugurkan kewajiban. Ini yang harus kami pastikan dengan baik dari aspek fungsi pengawasan DPRD,” ujar Nela mengakhiri.
Sumber: RRI Ternate