Budaya Lokal

Penyulingan Air Laut Disiapkan untuk Kawasan Wisata Gili

×

Penyulingan Air Laut Disiapkan untuk Kawasan Wisata Gili

Sebarkan artikel ini
Sejumlah warga melatih kuda berlari dan berjalan dalam air di kawasan wisata Pantai Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB (Foto: Dokumentasi/rri.co.id/Rachmad Zein)

Lombok Utara – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, NTB, menyiapkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis untuk menjawab kebutuhan air bersih. Solusi penyulingan air laut  ini diprioritaskan bagi kawasan wisata Gili Indah yang belum terlayani jaringan air  dari daratan.

Keterbatasan sumber air baku menjadi alasan utama belum tersedianya layanan air di Gili Trawangan dan Gili Meno. Destinasi wisata unggulan itu belum mampu disuplai langsung oleh sistem distribusi dari wilayah utama Lombok Utara.

Direktur Pelaksana Perusahaan Umum Daerah Air Minum Amerta Dayan Gunung, Wahyu Darmajati menyatakan, layanan masih terbatas. Wilayah Gangga, Tanjung, Pemenang, dan Gili Indah belum terlayani optimal oleh sistem pelayanan air yang ada sekarang.

“Kapasitas produksi kami hanya 217 liter per detik dari potensi keseluruhan 317 liter per detik,” kata Wahyu, Kamis (17/7/2025). Ia menyampaikan, kapasitas sisanya belum termanfaatkan akibat keterbatasan instalasi pengolahan air minum yang tersedia.

Air permukaan harus melalui proses pengolahan agar sesuai baku mutu air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan. “Kapasitas instalasi pengolahan air kami belum memadai untuk mengolah seluruh potensi air baku yang tersedia,” kata Wahyu.

Ia juga mencatat adanya kehilangan air sebesar 39 persen atau sekitar 84,63 liter per detik dari total produksi. Hal ini disebabkan infrastruktur distribusi yang belum pernah diperbarui sejak pendirian perusahaan air minum tahun 2013.

Saat ini tercatat ada 16.397 sambungan rumah dengan kebutuhan air sebesar 164 liter per detik secara keseluruhan. Namun, distribusi air belum berjalan penuh 24 jam dan masih dilakukan secara terbatas di beberapa wilayah pelanggan.

“Di Kecamatan Bayan diberlakukan sistem gilir, sementara wilayah lainnya hanya mendapat pasokan di malam hari,” ujarnya. Ditegaskan, bahwa pembangunan instalasi pengolahan air baru membutuhkan waktu serta anggaran yang tidak sedikit.

Meski ada potensi air baku tersisa, ia menilai itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan lima tahun mendatang. “Kalaupun instalasi baru selesai dibangun, kapasitasnya tetap belum memadai untuk jangka panjang,” kata Wahyu menambahkan.

Sumber utama berasal dari mata air Jongplangka yang hanya dapat dimanfaatkan 20 persen dari total debitnya. Pembatasan tersebut mengacu pada Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Sumber Daya Air yang berlaku nasional.

Dengan kondisi itu, pembangunan sistem penyulingan air laut menjadi pilihan paling realistis untuk kawasan Gili Indah. “Saat ini belum memungkinkan untuk mengalirkan air dari daratan ke Gili. Karena itu, ini solusi utama,” ujarnya.

Cakupan pelayanan air bersih oleh perusahaan daerah baru mencapai 28 persen dari target nasional sebesar 80 persen. Kondisi geografis, tekanan air rendah, dan kebutuhan sektor pertanian juga menjadi tantangan dalam pengembangan layanan.

“Pelayanan air bersih bukan hanya untuk hari ini, tapi harus menjawab kebutuhan masa depan,” ucapnya menegaskan. Teknologi penyulingan air laut dinilai sebagai langkah strategis menjamin keberlanjutan layanan air di kawasan wisata.

Sumber: KBRN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *