BREAKING NEWSPBB

Utusan PBB Minta Israel Pertanggungjawab Atas Pembunuhan Terhadap Anak-anak Iran

×

Utusan PBB Minta Israel Pertanggungjawab Atas Pembunuhan Terhadap Anak-anak Iran

Sebarkan artikel ini
Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani memegang foto anak-anak yang terbunuh dalam agresi Israel baru-baru ini terhadap Republik Islam tersebut pada sesi Dewan Keamanan PBB pada tanggal 20 Juni 2025. (Foto: Presstv/Fakta)

PBB – Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amir Saeid Iravani mengecam kebijakan Israel yang secara sengaja membunuh anak-anak selama perang di kawasan itu, dan mengatakan rezim tersebut akan bertanggung jawab atas kejahatan pembunuhan bayi.

Amir Saeid Iravani pada Jumat (27/6/2025) menyampaikan pernyataan tersebut pada hari Kamis saat berpidato pada debat terbuka Dewan Keamanan PBB tentang “Anak-anak dan Konflik Bersenjata”.

Dia mengatakan bahwa Israel, dalam agresi brutalnya terhadap Republik Islam antara 13 Juni dan 24 Juni, dengan sengaja menyerang warga sipil, menewaskan lebih dari selusin anak-anak Iran, termasuk balita dan bayi berusia dua bulan.

Kementerian Kesehatan Iran mengatakan pada Senin lalu melaporkan bahwa sedikitnya 44 wanita dan 13 anak-anak tewas selama agresi militer Israel terhadap Iran.

Iravani meminta Dewan Keamanan PBB untuk memenuhi tanggung jawabnya menyelamatkan nyawa anak-anak dan segera mengadopsi tindakan efektif terhadap Israel.

“Minggu lalu, rezim Israel kembali dimasukkan dalam daftar hitam pihak-pihak yang melakukan pelanggaran berat yang memengaruhi anak-anak dalam situasi konflik bersenjata dalam agenda Dewan Keamanan,” kata utusan Iran tersebut.

“Meskipun ini merupakan langkah awal yang penting, namun hal ini tidaklah cukup atau proporsional untuk menghentikan rezim yang menargetkan anak-anak.”

Ia mengatakan, tanggung jawab terletak pada badan dunia untuk menyelamatkan nyawa anak-anak dan mengadopsi tindakan penegakan hukum yang efektif terhadap rezim pembunuh anak di Tel Aviv.

“Rezim akan dimintai pertanggungjawaban penuh atas kejahatannya, khususnya kebijakan dan praktik yang menargetkan anak-anak,” tegasnya.

Iravani juga merujuk pada perang genosida Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, dengan mengatakan 50.000 anak Palestina telah terbunuh atau terluka oleh rezim tersebut sejak melancarkan agresi genosida pada Oktober 2023.

“Begitu biadabnya rezim Israel sehingga, karena pembunuhan anak-anak yang terus-menerus, muncul istilah baru, seperti yang saya kutip, “Anak Terluka, Tidak Ada Keluarga yang Selamat,” yang merujuk pada orangtua Palestina yang terbunuh sementara anak-anak mereka terluka,” ungkapnya.

Iravani mengatakan bahwa selain serangan Israel yang disengaja terhadap anak-anak Palestina dan infrastruktur sipil, seperti sekolah dan rumah sakit, ratusan ribu anak-anak secara sengaja tidak diberi makanan, air, dan obat-obatan, dan mengalami kelaparan.

Meskipun Amerika Serikat telah memblokir setiap upaya Dewan Keamanan yang berupaya melindungi anak-anak Palestina, “kita tidak boleh menyerah menghadapi standar ganda dan kemunafikan seperti itu,” tegasnya.

Sumber: Presstv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *