Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Naik 0,34 Persen terhadap Dolar AS

×

Nilai Tukar Rupiah Naik 0,34 Persen terhadap Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Seorang pegawai bank menunjukkan lembaran uang rupiah. (Foto: Antara/Fakta)

JAKARTA, FAKTA – Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (24/06/2024) sore. Menurut Bloomberg, rupiah menguat 0,34 persen (56 poin) menjadi Rp16.394 per dolar AS.

 

Pasar sepertinya merespons positif pesan Dana Moneter Internasional (IMF) kepada pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. IMF meminta presiden dan wapres terpilih itu berkomitmen menjaga defisit fiskal di bawah tiga persen dari PDB.

 

“IMF melihat fiskal Indonesia akan mengalami ekspansi pada 2024 dan 2025,” kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi. Selain itu, defisit yang lebih kecil akan mendukung pertumbuhan sekaligus menjaga kebijakan untuk merespons risiko-risiko negatif.

 

Senin (24/6/2024), Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, menggelar keterangan pers bersama Tim Prabowo. Sri Mulyani menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit fiskal di bawah tiga persen pada 2024 dan 2025.

 

Menurut dia, APBN 2024 mematok defisit fiskal sebesar 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun realisasinya hingga Mei 2024 baru mencapai 0,1 persen dari PDB.

 

Sedangkan pada 2025, pemerintah mematok defisit anggaran di kisaran 2,29-2,82 persen.  Prediksi tersebut sudah memasukkan program makan bergizi gratis dalam postur RAPBN 2025.

 

Dari sisi global, pengaruh geopolitik mendominasi pergerakan dolar yang berdampak kepada nilai tukar rupiah. Pasar akan fokus pada debat capres di Amerika Serikat dan hasil pemilu putaran pertana di Prancis.

 

“Indeks Harga Pengeluaran Personal (PCE) juga akan dirilis pekan ini,” kata Ibrahim. Menurut dia, ini akan menjadi ukuran inflasi pilihan The Fed dan menentukan prospek suku bunga.

 

Sementara itu, Tiongkok mengalami kerugian besar setelah Uni Eropa menerapkan tarif tinggi terhadap impor kendaraan listrik dari sana. Para pejabat Negeri Tirai Bambu mengancam akan membalas dengan menerapkan tarif tinggi untuk impor mobil dari Eropa.

 

“Saham-saham  di Tiongkok turun tajam dalam dua minggu terakhir yang menimbulkan sentimen negatif ke pasar kawasan,” kata Ibrahim. Sedangkan di Hong Kong, saham-saham teknologi terbesar juga ikut mengalami penurunan.

 

AD/KBRN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *