MAKKAH, FaktaInvestigasi – Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) mencatat 40 jemaah haji Indonesia wafat saat pelaksanaan puncak haji. Kepala Bidang Kesehatan Petugas haji Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Indro Murwoko menjelaskan, jemaah yang wafat tersebut tersebar di dua tempat yaitu Arafah dan Mina.
“Sampai tanggal kemarin (19 Juni) pukul 16.00 WAS itu ada 11 orang meninggal di Arafah. Dan 29 orang meninggal di Mina,” kata Indro di Mekkah, Jumat (21/6/2024).
Indro menuturkan 40 jemaah tersebut tidak meninggal di satu tempat. Ada yang meninggal di tenda, pos kesehatan Arafah, Jamarat, dan Rumah Sakit Arab Saudi yang ada di Arafah dan Mina.
“Arofah 11 itu 6 di rumah sakit Arab Saudi, di pos kesehatan ada 3 dan di tenda ada 2,” kata Indro. Lebih lanjut Indro menjelaskan rata-rata jemaah yang meninggal dunia karena serangan jantung, stroke, dan mengalami dehidrasi.
Tidak hanya itu, rata-rata jemaah haji yang meninggal di Arafah dan Mina memang memiliki penyakit bawaan atau komorbit. “Memang itu relevan dengan penyakit-penyakit yang diderita sebelumnya sejak di tanah air,” kata Indro.
Indro menjelaskan ketika ada jemaah haji yang meninggal, maka tenaga kesehatan akan membuat Certificate of Death (COD). Isinya menyatakan data kematian jemaah, termasuk penyebab kematian.
“Jadi kalau kesehatan kewenangannya hanya di membuat sertifikat kematian, serat keterangan kematian,” kata Indro. Setelah itu, tim akan berkoordinasi dengan maktab atau sektor untuk menyiapkan administrasi dan pengurusan pemulasaraan termasuk pemakaman.
Untuk itu dia membantah jika ada jemaah haji Indonesia yang meninggal ditelantarkan. Apalagi seperti yang beredar di sosial media.
“Sejauh ini kita tidak mendapatkan laporan yang kemudian tidak ditangani, kalau diberitakan hanya ditutupi kaun ikhrom gitu ya. Itu kita tidak mendapatkan laporan-laporan itu,” kata Indro.
KBRN/AD