Ekonomi & Bisnis

Usai Dipanggil Presiden, Gubernur BI dan Menteri Keuangan Optimis Rupiah Menguat

×

Usai Dipanggil Presiden, Gubernur BI dan Menteri Keuangan Optimis Rupiah Menguat

Sebarkan artikel ini
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta, Kamis (30/5/2024). (Foto: ANTARA FOTO/FAKTA)

JAKARTA, FAKTA – Pemerintah optimis tren rupiah akan bergerak menguat. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan berbagai pengaruh faktor positif menunjukkan penguatan rupiah masih mungkin terjadi.

 

“Fundamentalnya, ke depan, rupiah akan menguat. Cuma pergerakan dari bulan ke bulan tergantung dari sentimen-sentimen ini, tapi tren-nya menguat,” ujar Perry dalam keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (20/6/2024).

 

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan berbagai faktor seperti konsumsi dan juga kepercayaan masyarakat turut berpengaruh. Jika semua faktor tersebut terjaga, akan sangat membantu pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua terjaga baik.

 

“Kalau kita lihat dari fundamental seperti indeks penjualan riil masyarakat yang mencerminkan konsumsi masyarakat mengalami pemulihan. (Ini-red) terutama pada Mei ini,” ujar Sri Mulyani.

 

Menkeu mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah. Ia menekankan koordinasi tersebut terutama dalam kontrol fiskal dan moneter.

 

Sedangkan pada Jumat (21/06/2024) sore, nilai tukar rupiah belum mampu melawan kekuatan dolar Amerika Serikat (USD) dan terus melemah jelang akhir pekan. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah turun 0,12 persen (20 poin), Rp16.450 per USD dalam penutupan perdagangan sore ini.

 

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi menyebutkan faktor eksternal dan internal membuat rupiah semakin loyo.  Dari dalam negeri, pasar mencermati arah kebijakan fiskal yang dinilai berisiko.

 

“Ada potensi risiko fiskal, terlihat dari proyeksi defisit anggaran di kisaran 2,8 persen dari Produk Domestik Bruto (GDP). Proyeksi itu mendekati batas atas defisit sebesar 3 persen dari PDB,”  kata Ibrahim dalam analisisnya sore ini, Jumat (21/6/2024).

 

Faktor lainnya yang mempengaruhi sentimen pasar adalah isu Presiden Terpilih Prabowo Subianto akan menaikkan rasio utang. Namun isu itu telah ditepis oleh tim Prabowo-Gibran.

 

Menurut Ibrahim, pemerintahan mendatang dibawah Prabowo-Gibran harus secepatnya menyampaikan komitmennya terhadap disiplin fiskal. Sehingga risiko fiskal dapat ditekan dan tidak memicu sentimen negatif terhadap rupiah.

 

Selain itu, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus menjaga stabilitas rupiah berbasis kekuatan fundamental perekonomian Indonesia. Bukan dengan intervensi valuta asing atau menaikkan suku bunga domestik, karena akan mempengaruhi kekuatan devisa negara.

 

“Pelemahan rupiah merupakan anomali, karena hingga Mei 2024 neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus. Seharusnya rupiah tidak melemah berkepanjangan, jika pasokan dolar dari surplus tersebut mengalir ke pasar,” ucap Ibrahim.

 

Sementara itu, dari sisi eksternal, sentimen pasar masih dipengaruhi oleh data perekonomian AS. Penjualan ritel naiknya tidak signifikan, pasar tenaga kerja masih kuat, memicu spekulasi baru pemangkasan suku bunga The Fed.

 

Pasar berspekulasi The Fed akan memangkas suku bunganya dua kali tahun ini. Namun The Fed belum memberikan isyarat yang membuat pasar yakin The Fed akan memangkas suku bunganya.

 

Sementara itu, Bank of England memutuskan mempertahankan suku bunganya dan Bank Nasional Swiss memangkas suku bunga untuk kedua kalinya. Bank of Japan masih berupaya keras menstabilkan mata uang Yen yang melemah ke posisi terendah sejak April kemarin.

 

AD/KBRN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *