TERNATE, FAKTA – Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku Utara Aidil Adha, menyatakan nilai ekspor Maluku Utara pada Mei 2024 alami kenaikan didominasi komoditi besi dan baja (HS 72) dengan negara tujuan Tiongkok.
Hal ini diungkapkan Aidil pada agenda rilis berita resmi statistik (BRS) pada bulan Juni 2024, yang berlangsung di ruang vicon kantor BPS Malut, Rabu (19/6/2024).
Dijelaskan perkembangan ekspor Maluku Utara, nilai ekspor Mei 2024 mencapai U$$ 1.010,37 juta atau naik 1,36 persen dibandingkan April 2024.
Sementara itu, nilai ekspor pada April 2024 terhadap Mei 2024 pada April Nilai Ekspor sebesar U$$ 996,78. Untuk Mei naik menjadi U$$1.010,37 ada kenaikan sebesar 1,36 persen secara M-to-M.
“Nilai Ekspor Mei 2024 mengalami Peningkatan secara bulanan maupun tahunan. Peningkatan nilai ekspor secara bulanan di sumbang oleh peningkatan nilai ekspor komoditas Besi dan Baja (HS 72),” katanya.
“M-to-M terjadi kenaikan 1,36 persen secara tahun ke tahun nilai ekspor kita Mei 2023 dibandingkan Mei 2024 ada kenaikan sebesar 20,22 persen diman pada Mei 2023 nilainya sebesar U$$840,45 persen sementara Mei ini U$$ 1.010,37 juta.”
Sementara share ekspor Maluku Utara menurut HS 2 digit, pada bulan ini share tertinggi masih berada di komoditi Besi dan Baja (HS 72) dengan besaran 61,91 persen, kemudian Nikel dengan besaran 32,33 persen dan Bahan Kimia Anorganik (HS 28) sebesar 5,76 persen. Daru ekspor yang dilakukan oleh Provinsi Maluku Utara ke Negara lain.
Sementara perubahan nilai ekspor Maluku Utara menurut 2 Digit. Secara m-to-m perubahan tertinggi dialami oleh Besi dan Baja mengalami kenaikan sebesar 15,03 persen, sementara Bahan Kimia Anorganik turun menjadi 9,71 persen, Nikel turun 15,82 persen, ikan dan Udang turun 100,00 persen.
“Penurunan secara drastis di Mei 2024 mengalami penurunan sampai 100 persen, dan yang naik itu hanya Besi dan Baja,”tuturnya.
Lebih jauh, kata dia, untuk pangsa kspor Maluku Utara hampir 98 persen ekspor Provinsi Maluku Utara dengan komoditi besi dan baja serta nikel sebesar U$$ 979,82 juta atau 96,98 persen ke Negara Tiongkok.
“Sementara India sebesar U$$ 30,55 juta atau 3,02 persen merupakan besi dan baja,” ujar Aidil, mengakhiri.
AAD/KBRN