Liputan Haji 2026

PPIH Arab Saudi Ingatkan Jemaah Haji Indonesia Jangan Paksakan Diri Tawaf Ifadhah

×

PPIH Arab Saudi Ingatkan Jemaah Haji Indonesia Jangan Paksakan Diri Tawaf Ifadhah

Sebarkan artikel ini
Jemaah Haji melaksanakan Tawaf Ifadhah di Masjidil Haram, Makkah, Selasa (18/6/2024). (Foto: RRI/Fakta)

MAKKAH, FAKTA – Jemaah haji Indonesia diminta untuk tidak memaksakan diri lanjut laksanakan ibadah Tawaf Ifadhah atau Tawaf Ziarah setiba di hotel masing- masing. Hal ini mengingat menjaga fisik dan memulihkan stamina penting usai melakukan perjalanan dari maktab di Mina menuju hotel di Makkah.

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau jamaah calon haji yang sudah kembali ke hotel masing-masing usai melaksanakan puncak haji, agar tak langsung melaksanakan Tawaf Ifadhah. “Menunda pelaksanaan Tawaf Ifadhah dan sa’i hingga jamaah telah pulih dan bugar kembali,” kata Kepala Daerah Kerja Makkah, Khalilurrahman, Selasa (18/6/2024).

Khalil meminta jemaah haji Indonesia sebaiknya beristirahat yang cukup dan menjaga kebugaran fisik. Apalagi, puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina sangat menguras tenaga, baik fisik maupun mental.

Di samping itu, Bus Shalawat baru akan kembali beroperasi pada 20 Juni 2024. Bus Shalawat ini biasa mengantarkan jemaah Indonesia dari hotel menuju terminal dekat Masjidil Haram selama 24 jam.

“Tidak melakukan aktifitas yang menguras tenaga, seperti ziarah atau umrah sunnah berulang kali,” ujar Khalil.

Di sisi lain, bagi jemaah yang akan pulang ke Indonesia atau ke Madinah, agar mencermati rencana kepulangan dan menuntaskan Tawaf Ifadhah dan sa’i sebelum pulang.

Jemaah lanjut usia, risiko tinggi, dan sakit serta jemaah perempuan yang sedang haid, gugur kewajiban tawaf wada-nya dan tidak dikenakan dam. Sementara, jemaah haji yang sehat dan tidak ada halangan/uzur, diminta melaksanakan tawaf wada paling lambat 12 jam sebelum rencana jadwal pulang.

Sementara itu, Kepala Pusat Kesehatan Haji (Kapuskes) Kementerian Kesehatan, Liliek Marhaendro Susilo mengatakan, jemaah yang telah melaksanakan Armuzna sebaiknya beristirahat satu hingga dua hari.

“Jangan memaksakan untuk langsung pergi. Keselamatan diri lebih utama,” ucapnya.

Liliek menjelaskan, setelah prosesi puncak haji tenaga jemaah akan terkuras. Ia khawatir jika jemaah memaksakan, malah akan timbul penyakit-penyakit yang justru membuat pergerakannya terhambat.

“Hari ini diforsir selama tiga atau empat hari, kita setiap hari jalan sekian kilometer. Sehingga wajar jika nanti kecapean, atau mungkin ada timbul penyakit-penyakit yang ringan,” ujarnya.

 

ALDY/KBRN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *