Jakarta

Bang Yos Merasa Lega Tiang Monorel Akhirnya Dibongkar

×

Bang Yos Merasa Lega Tiang Monorel Akhirnya Dibongkar

Sebarkan artikel ini
Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso alias Bang Yos (ketiga dari kiri) penggagas Monorel ikut menyaksikan pemotongan perdana tiang beton Monorel bersama Gubernur DKI Pramono Anung (kedua dari kiri) dan Wakil Gubernur DKI Rano Karno (ketiga dari kanan) di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Rabu 14 Januari 2026 (Foto: Akun X@beritajakarta)

Jakarta – Tiang monorel yang manngkrak selama puluhan tahun di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, akhirnya resmi dibongkar. Pembongkaran secara resmi dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno, Rabu 14 Januari 2026. 

Saat peresmian pembongkaran itu, orang yang berdiri di samping kiri Gubernur Pramono bukan Rano Karno, melainkan laki-laki sepuh berkemeja batik yang wajahnya sangat dikenal oleh warga Jakarta. Dia adalah Sutiyoso, (81) Gubernur DKI Jakarta dua perode (1997-2007).  

Sutiyoso atau yang biasa disebut Bang Yos merasa lega karena akhirnya masalah mangkraknya proyek monorel ada penyelesaiannya.  “Jujur saja, hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono,” katanya

Bang Yos patut merasa lega karena pada masa kepemimpinannya tiang monorel itu berdiri. Ia adalah    penggagas sisitem transportasi dengan menggunakan kereta monorel. 

Bang Yos pun mengenang awal mula gagasan pembangunan monorel Jakarta yang muncul pada awal tahun 2000-an sebagai solusi jangka panjang mengatasi kemacetan.  Sutiyoso juga menjelaskan soal gagasannya soal Monorel pada saat dia menjabat Gubernur DKI.

Ia mengatakan, dari hasil kajian para pakar transportasi saat itu menyimpulkan Jakarta membutuhkan empat moda transportasi yang terintegrasi. Empat moda itu adalah Mass Rapid Transportation (MRT) bawah tanah, monorel di atas, busway, dan waterway.

Ia juga sempat melakukan studi banding ke sejumlah negara. Seperti Kolombia, Filipina, dan Thailand, yang menunjukkan monorel cocok untuk kota besar.

Namun kondisi sosial ekonomi pascakerusuhan Mei 1998 membuat kepercayaan investor belum pulih. Oleh karena itu, Sutiyoso memutuskan memulai pembangunan transportasi massal yang tidak membutuhkan investor besar, yakni busway.

“Kalau semua menunggu kondisi sempurna, sampai hari raya kuda juga enggak jadi.Maka yang bisa dikerjakan langsung ya busway,” ucapnya.

Meski begitu, proyek monorel tetap berjalan paralel.  Proyek monorel secara resmi dimulai tahun 2004. Peletakan batu pertama dilakukan pada 14 Juni 2004 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri di Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta.

Namun sayang proyek ini mulai terhenti sejak tahun 2007 akibat perselisihan hukum antara   kontraktor dan pengembang. Masalah utama   adalah   pengembang tidak memilki dana yang cukup untuk melanjutkan proyek itu yaitu sekitar tUSD 144 juta.

Konflik antara kontraktor dan pengembang ini menjadi hambatan besar bagi kelangsungan proyek. Pada masa Gubernur Fauzi Bowo, proyek ini akhirnya resmi dihentikan pada tahun 2008.

Pada masa Gubernur DKI selanjutnya, ada upaya untuk menghidupkan kembali proyek monorel itu, namun semuanya akhirnya terhenti. Melihat berbagai alternatif kelanjutan proyek monorel buntu, akhirnya Gubernur Pramono Anung memutuskan untuk mengungkap tiang beton yang sudah terlanjur beridiri dari Jalan Asia Afrika, Senayan hingga Jalan Rasuna Said, Kuningan Jakarta. 

Sementara itu, Gubernur Pramono Anung mengatakan terdapat 109 tiang monorel yang akan dibongkar. Nantinya, lokasi tersebut akan ditata ulang menjadi bagian dari penataan kawasan Rasuna Said. 

“Jumlah tiangnya ada 109 sampai dengan ujung Jalan Rasuna Said. Ini akan ditata rapi dan mudah-mudah kemacetan juga akan berkurang. Target kami September sudah selesai,” ujar Pramono.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *