BERITA REDAKSIInfo Keagamaan

Pesan Untuk Mubaligh Mentransfer Ilmu Jelang Milad MUI

×

Pesan Untuk Mubaligh Mentransfer Ilmu Jelang Milad MUI

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi Da'wah MUI Maluku Utara H. Basir Ishak. (Foto: RRI/KBRN)

Ternate – Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 26 Juli 2025 nanti akan memasuki usia yang ke-50, karena itu Komisi Da’wah mengajak para mubaligh untuk terus melakukan transfer ilmunya kepada masyarakat melalui da’wah.

Ketua Komisi Da’wah MUI Maluku Utara H. Basir Ishak mengajak kepada para ustadz, ustadzah, mubaligh / mubaliqah di daerah ini agar tidak hanya semata mata menekankan aspek kematian dengan segala problemnya, akan tetapi di era ini lebih banyak mencurahkan kepada lima aspek.

Aspek pertama adalah Kesehatan ini sangat penting jangan ditarik tarik lagi soal ketika bicara agar masyarakat tidak bingung fokus pada pembicaraan bahwa hidup ini kesehatan menjadi penting karena itu lah Allah SWT izinkan kita hidup, bisa berjalan, bisa bernafas, bisa makan dan lain lain, kunci nya bersyukur kepada Allah SWT, jangan bicara kemana mana agar masyarakat paham.

“Peliharalah kesehatanmu sebelum anda menderita sakit karena kesehatan terganggu, manfaatkan selagi sehat,” ujar ustad Ubas sapaan H. Basir Ishak, Jumat (18/7/2025).

Aspek kedua adalah ekonomi, motifasi kepada masyarakat di bumi Halmahera ini, bahwa nikmat Rezeki dari Allah SWT tidak datang serta merta dari langit melainkan harus dengan usaha keras dan sungguh sungguh  untuk meraih hidup berkecukupan, karena tidaklah mungkin ketika ibadah menghadap Allah SWT posisi manusia dalam keadaan tidak stabil karena lapar terus menerus. Karena itu faktor ekonomi juga ikut menentukan kemajuan suatu keluarga, bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Misalnya  saja anak bisa sukses dan meraih gelar  setinggi tinggi, bisa berumrah dan berhaji karena faktor ekonomi yang memadai.

Lebih lanjut ketua Komisi Da’wah mengatakan aspek ketiga adalah Budaya, bahwa di Maluku Utara masih ada Desa-desa yang terisolir jauh dari soal suasana Kota yang masih cukup banyak, dan masih melekat dengan kondisi adat dan budaya yang ikut mempengaruhi nilai Islami, misalnya ketika pesta perkawinan, acara khitan, acara ulang tahun rasanya tidak lengkap kalau sesudahnya tidak dibarengi dengan pesta ronggeng, dari pukul 20.00 sampai siang, yang masih membekas hanyalah ketika hajatan doa selamatan dan duka karena ada yang meninggal masih terlihat kerjasama. Menurut Ustadz Ubas bicaralah aspek itu jangan bicara kemana mana nanti salah resep.

Sementara aspek keempat adalah sosial, kultur masyarakat dalam aspek ini terlihat  masih sangat dinamis disana ada masyarakat  memiliki sifat sosial bervariasi, karena latar belakang ekonomi, ada masyarakat yang memiliki kelebihan 8 persen selebihnya ada masyarakat kurang berkecukupan (miskin), faktor sosial yang berbeda ini hendaklah difahami dalam menularkan ilmunya ketika menyampaikan pesan-pesan agama.

Aspek yang kelima adalah Geografis, pada jelang Milad 50 MUI kata Ustadz Ubas, spirit para mubaligh sangatlah minim ketika melihat dan mendengar keadaan geografis Maluku Utara yang dijangkau dengan melalui lautan  dan pulau-pulau disini yang merupakan  kondisi alam yang perlu terobosan tertentu agar da’wah bisa tumbuh dan berkembang  sampai ke pelosok sekalipun.

Menurutnya kurang lebih 80 persen da’wah belum tersentuh di daerah daerah-daerah terpencil karena aspek geografis, Karena itu ke depan da’wah, pesan-pesan agama dapat difokuskan pada daerah daerah-daerah yang belum tersentuh, dengan berbagai strategi sesuai perkembangan ilmu dan teknologi, “Da’wah Mencerahkan”, Santun, berbekas raih kualitas ummat.

Sumber: RRI Ternate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *