MAKKAH, FAKTA – Skema murur yang diterapkan pada pelaksanaan ibadah haji 1445 Hijriah berjalan sesuai rencana dan terbilang sukses. Skema ini juga menghindarkan jemaah dari kelelahan saat melaksanakan prosesi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Demikian disampaikan Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Liliek Marhaendro Susilo, Selasa (18/6/2024) pagi waktu Arab Saudi. Menurut dia, kebijakan murur membuat jemaah lanjut usia, disabilitas, dan risiko tinggi tidak menghabiskan banyak energi.
“Dampak murur luar biasa,” ujarnya. Ini terlihat dari minimnya jumlah jemaah yang menderita sakit ditangani pos kesehatan Mina.
Murur adalah mabit (bermalam) dengan cara melintas di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah. Saat melintasi kawasan Muzdalifah, jemaah tetap berada di dalam bus kemudian langsung dibawa menuju tenda-tenda di Mina.
Skema ini baru pertama kali diterapkan bagi jemaah Indonesia pada tahun ini. Sebanyak 55 ribu orang kategori lansia, risti, dan disabilitas ikut dalam skema ini.
Dampak lain skema murur adalah mengurangi kepadatan saat mabit di Muzdalifah. Perpindahan dari Muzdalifah menuju Mina pun tidak mengalami hambatan berarti.
Ini berbeda dengan tahun lalu ketika pergerakan jemaah dari Muzdalifah ke Mina tersendat akibat macetnya jalur lintasan. Kemudian, murur juga membuat jemaah lansia, risti, dan disabilitas memiliki waktu panjang untuk beristirahat.
AD/KBRN