Halmahera Selatan, 16 Mei 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan industri nikel di Pulau Obi, semakin banyak putra-putri daerah yang tak lagi hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri. Mereka kini ikut mengambil peran penting, tumbuh bersama industri, dan perlahan menempati posisi strategis melalui proses panjang, kerja keras, dan dedikasi.
Salah satu kisah datang dari Frangi Cako, pemuda asal Desa Kawasi yang memulai karier di Harita Nickel pada 2015 sebagai anggota security saat usianya baru 18 tahun.![]()
Perjalanan kariernya tidak instan. Berbekal disiplin dan pengalaman kerja di lapangan, Frangi yang akrab disapa Angki perlahan dipercaya memegang tanggung jawab lebih besar. Ia pernah menjabat Komandan Regu hingga akhirnya pada September 2025 dipercaya menjadi Supervisor Security.
“Di Industrial Sektor 3, kami semua berjumlah 43 personel. Kami bertugas di titik-titik strategis perusahaan,” ujar Angki.
Menurutnya, tugas seorang security bukan sekadar menjaga pos keamanan. Ia kini bertanggung jawab mengatur personel, melakukan koordinasi keselamatan kerja, hingga menangani administrasi perkantoran.
“Kami juga difasilitasi kursus komputer untuk menunjang pekerjaan administrasi. Dulu saya tidak pernah belajar komputer secara serius sejak sekolah. Tapi di Harita Nickel kami diajarkan cara mengoperasikannya,” katanya.
Angki menepis anggapan bahwa tenaga kerja lokal tidak mendapat ruang di perusahaan. Baginya, kesempatan terbuka bagi siapa saja yang mau bekerja keras dan menunjukkan dedikasi.
“Saya ini asli Kawasi, lahir dan besar di sini. Sampai bisa dipercaya di posisi supervisor menunjukkan bahwa putra daerah juga punya peluang besar. Yang penting adalah dedikasi dan kerja keras, bukan banyak mengeluh,” tegasnya.
Ia mengaku membutuhkan lebih dari 10 tahun untuk mencapai posisi saat ini. Karena itu, Angki berpesan kepada generasi muda Pulau Obi agar tidak takut memulai dari bawah.
“Kita harus berproses. Pengalaman dari bawah itulah yang membawa kita naik,” tutupnya.
Dari Hutan hingga Memimpin Tim Konstruksi
Cerita lain datang dari Yokber Cecene, warga Kawasi yang kini menjabat Supervisor di Construction & Engineering.
Yokber merupakan salah satu dari sekitar 50 warga Kawasi yang direkrut Harita Nickel pada 2007, di masa-masa awal perusahaan mulai berkembang di Pulau Obi. Saat itu, ia bersama rekan-rekannya harus keluar masuk hutan untuk membangun fondasi awal kawasan industri yang kini terus tumbuh.
“Saya mulai dari pekerjaan paling dasar. Sekarang saya memimpin tim yang terdiri dari beberapa foreman dan kru,” ujarnya.
Selama bekerja, Yokber banyak terlibat dalam proyek konstruksi. Salah satunya pembangunan Jembatan Akelamo yang menghubungkan Kawasi dan Soligi.
Dedikasi dan tanggung jawab yang ia tunjukkan selama bertahun-tahun membawanya dipercaya menempati posisi strategis di perusahaan.
“Waktu pertama kerja saya masih bujang. Sekarang anak saya sudah mau lulus SMA dan sekolah di Yogyakarta. Dia bercita-cita masuk sekolah penerbangan,” tuturnya bangga.
Peningkatan ekonomi keluarga juga dirasakan Yokber. Selain penghasilannya yang stabil, sang istri kini membuka usaha sembako di kawasan ekonomi dekat Pemukiman Baru Desa Kawasi, dan usaha tersebut berkembang cukup baik.
Ia berharap generasi muda Pulau Obi dapat mengikuti jejak yang sama.
“Di keluarga saya ada dua orang yang sudah jadi foreman. Tetangga saya juga banyak yang bekerja di sini. Jadi anak-anak muda Obi juga punya peluang besar untuk berkembang,” katanya.
Dari Program Pelatihan hingga Menjadi Penerjemah Mandarin
Sementara itu, kisah berbeda datang dari Desa Soligi. Sifa Sahbila Amirudin, gadis 19 tahun asal Soligi, memulai langkahnya melalui program PELITA (Peningkatan Keahlian dan Keterampilan), program pelatihan yang difokuskan pada peningkatan kemampuan masyarakat lokal, termasuk bahasa Mandarin.
Saat ini, Sifa menjalani program magang di Departemen HRGA Site Obi sebagai penerjemah Mandarin.
“Saya ikut program PELITA selama enam bulan. Sebelumnya saya juga ikut kursus komputer dari CSR Harita Nickel. Saya memilih dua keterampilan itu karena sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini,” ujar Sifa.
Setelah lulus SMA, Sifa sebenarnya ingin melanjutkan kuliah. Namun keterbatasan ekonomi membuatnya harus menunda impian tersebut.
Kesempatan magang yang ia dapatkan kini menjadi pengalaman berharga yang membuka pandangannya tentang masa depan.
“Kesempatan ini sangat berarti bagi saya. Saya ingin terus berkembang dan berharap pengalaman ini bisa menjadi bekal untuk karier saya ke depan, termasuk di Harita Nickel,” katanya.
Sifa mengaku sempat merasa takut saat pertama kali menjadi karyawan magang. Ia khawatir tidak diterima oleh lingkungan kerja. Namun kekhawatiran itu perlahan hilang karena banyak rekan kerja yang membantunya beradaptasi.
“Banyak yang membantu dan mengarahkan saya. Mereka menerima saya dengan sangat baik,” ungkapnya.
Kini, selain memperoleh pengalaman kerja, Sifa juga merasa lebih mandiri karena dapat membantu perekonomian keluarga.
Kisah Angki, Yokber, dan Sifa menjadi gambaran bagaimana masyarakat lokal Pulau Obi mulai tumbuh bersama industri nikel yang berkembang di daerah mereka. Dengan proses panjang, kesempatan belajar, dan kerja keras, generasi muda Obi kini semakin percaya diri menjadi bagian penting dari pembangunan di tanah kelahirannya sendiri.