Ternate – Forum Pelajar Mahasiswa Wayatim (Forpmasi-Wayatim) mengecam buruknya infrastruktur di wilayah Wayatim, Kabupaten Halmahera Selatan, yang dinilai menghambat akses layanan kesehatan dan membahayakan nyawa warga.
Kecaman itu menyusul kasus bayi dari pasien Wahyuni Hi Latif yang mengalami kondisi kritis setelah proses rujukan terhambat banjir, Kamis (26/2/2026).
Jalan terendam dan tidak tersedianya jembatan layak membuat pasien sempat tertahan di tepi Sungai Raim selama beberapa jam.
Ketua Umum Forpmasi-Wayatim, Suritno Sangaji, mengatakan peristiwa tersebut bukan kejadian pertama.
Ia menilai pemerintah daerah lalai memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar di wilayah pedesaan.
“Ini bukan semata faktor alam. Ini soal perencanaan dan pembangunan yang tidak berpihak pada kebutuhan dasar masyarakat,” kata Suritno, Kamis, 26 Februari 2026.
Menurut dia, buruknya akses berdampak langsung pada keselamatan ibu dan bayi.
Bayi dilaporkan mengalami asfiksia neonatorum, sementara sang ibu mengalami pendarahan dalam proses persalinan.
Bidan Polindes Wayatim sebelumnya menyampaikan bahwa kendala rujukan akibat jalan rusak dan luapan sungai kerap terjadi di Desa Wayatim, Tomara, Tutupa, dan Tabapoma.
Forpmasi-Wayatim mendesak pemerintah daerah dan pusat segera membangun jembatan di titik-titik sungai yang rawan serta mengevaluasi sistem rujukan kesehatan di wilayah tersebut.
“Kami akan terus mengawal persoalan ini sampai ada langkah konkret dari pemerintah,” ujar Suritno.
Sumber: TernateHits