Ternate – Hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Maluku Utara sejak Selasa sore hingga Rabu, 7 Januari 2025, mengakibatkan peningkatan debit air secara signifikan. Kondisi tersebut memicu banjir dan longsor yang merendam permukiman warga serta merusak infrastruktur vital di sejumlah kabupaten/kota.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Maluku Utara melaporkan sedikitnya lima jembatan di Kabupaten Halmahera Utara terdampak, bahkan beberapa di antaranya terputus akibat gerusan dan luapan sungai.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR Maluku Utara, Risman Iriyanto Djafar, mengungkapkan sejumlah titik bencana yang menjadi prioritas penanganan. Lokasi tersebut meliputi Desa Darume dan Desa Kailupa dengan akses jalan tertutup longsor sepanjang sekitar 150 meter.
“Saat ini tim sementara menuju ke lokasi terdampak untuk mengidentifikasi lebih lanjut tingkat kerusakannya,” ujar Risman saat dihubungi di Ternate, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, untuk penanganan banjir di beberapa titik, pihaknya membutuhkan kolaborasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS). Kerja sama tersebut difokuskan pada lokasi terdampak banjir di Desa Bobisingo, Desa Tutumaloleo, dan Desa Sayoang.
Sementara itu, untuk lokasi di Desa Darume, Desa Kailupa, dan Desa Posi-Posi yang terdampak longsor tebing dan bukan disebabkan oleh luapan sungai, penanganan disarankan dilakukan melalui mekanisme darurat menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT).
Risman menambahkan, pascabanjir, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda telah menginstruksikan Dinas PUPR untuk terus memantau dan mempercepat penanganan infrastruktur jalan dan jembatan yang terdampak bencana, guna memastikan konektivitas antarwilayah segera pulih dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.