Oleh : Tiklas Pileser Babua
Cuaca ekstrem kembali memaksa warga menggantungkan doa di setiap rumah. Ada yang menangis, ada yang marah, ada yang pasrah, dan ada pula yang sibuk menjadi jubir di tengah banjir.
Banjir bandang terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Maluku Utara, salah satunya di Kabupaten Halmahera Barat. Banjir pertama terjadi pada 5 Januari 2026 di Desa Gamomeng, Kecamatan Sahu Timur, sekitar pukul 20.37 WIT, yang menyebabkan akses jalan penghubung Desa Susupu–Jailolo terputus sementara.
Banjir susulan kembali terjadi di wilayah yang sama pada 7 Januari 2026. Namun kali ini, banjir tidak hanya menghantam Desa Gamomeng, melainkan meluas ke berbagai wilayah lain di Kabupaten Halmahera Barat. Hampir 70% wilayah kabupaten ini terdampak, meliputi tujuh kecamatan sekaligus: Kecamatan Sahu Timur, Sahu, Ibu Selatan, Ibu Tengah, Ibu, Ibu Utara, dan Loloda.
Di tengah bencana, beberapa pejabat justru terlihat sibuk menarik urat leher di berbagai acara seremoni untuk menyampaikan sambutan awal tahun. Rakyat tenggelam, pejabat sibuk memastikan citra tidak ikut tenggelam. Ada pula yang berpose di tengah banjir sambil menunjuk dengan jari telunjuk demi menarik simpati kamera. Padahal, titik-titik rawan banjir ini bukanlah wilayah yang baru sekali mereka kunjungi. Namun apa yang berubah? Banjir dijadikan momentum penyelamatan citra, bukan momentum perubahan.
Ironisnya lagi, para pejabat ini lebih gemar “digendong” oleh sang Ibu Cantik agar bisa merangkap sebagai jubir di tengah banjir. Dengan nada dramatis mereka berkata, “Rakyat kita butuh bantuan, Bu. Butuh pakaian, Bu. Rakyat kita butuh uluran tangan dari Ibu.” Penderitaan rakyat pun dipoles menjadi bahan narasi.
Beberapa jam setelah meninjau lokasi banjir, bapak-bapak gaul ini terpantau mulai memperbarui status di WhatsApp Story dengan narasi keluh kesah: “Halbar selalu saja darurat bencana, ada apa gerangan?” Pejabat semacam ini layak dikategorikan sebagai pemimpin minim gagasan dan miskin refleksi dalam membawa perubahan.
Seharusnya, dari bencana yang terus berulang, para pejabat perlu bercermin. Banjir dan tanah longsor adalah demonstrasi alam yang paling jujur—lebih jujur daripada suara lantang yang keluar dari ruang-ruang berpendingin udara. Ia menghantam rumah tembok, rumah pendeta, jembatan, dan jalan tanpa pandang bulu.
Bencana dahsyat ini merupakan tamparan keras atas kenyataan bahwa ambisi menjadikan Halmahera Barat sebagai rumah industri dan pertambangan nyatanya tidak direstui oleh alam itu sendiri. Jika terus dipaksakan, maka alam sedang menyiapkan bencana yang lebih besar sebagai balasan atas keserakahan yang sama.
Terakhir, kepada seluruh warga yang terdampak musibah, turut berduka cita atas segala kehilangan. Percayalah, negeri Jio Japung Ma Lamo hanya akan diselamatkan oleh kita sendiri, dimulai dari hari ini. Tinggal memilih: kita duduk memegang garpu sebagai pemain, atau kita telanjang di atas piring sebagai menu santapan.
Jailolo, 7 Januari 2026.