Budaya LokalKab Halut

Sanggar Seni Budaya Wola Kabata Kao Bangkitkan Generasi Muda Lewat Tarian Adat

×

Sanggar Seni Budaya Wola Kabata Kao Bangkitkan Generasi Muda Lewat Tarian Adat

Sebarkan artikel ini
Para pelajar SMA sedang mengikuti latihan tarian adat Kao (tarian lala) yang digagas oleh Sanggar Seni Budaya Wola Kabata Kao. (Foto: Afandi/Fakta)

Halut – Pemuda dan remaja di desa Kao, Kecamatan Kao, Kabupaten Halmahera Utara, kembali menggalakan seni budaya berupa gala kao, gala kabata dan tarian cakalele. Pencetus dalam gagasan itu adalah pemain viol fenomenal Abang Ir atau yang dijulukan dengan sebutan President Viol dan saudara Afandi Than.

Dalam keterangan pers yang diterima media ini Senin (27/10/2025), Juru Bicara Sanggar Seni Budaya Wola Kabata Kao Afandi Than mengatakan kegiatan ini diadakan untuk tujuan melestarikan budaya adat seatoran di wilayah hukum adat Kao, termasuk seni budaya musik yang belakangan mulai hilang.

“Kami ingin melestarikan budaya Moloku Kie Raha khususnya tarian adat kao yang saat ini sudah mulai pudar. Kegiatan ini sengaja kami buat agar para pemuda dan pemudi Maluku Utara lebih giat lagi dengan tarian-tarian daerah yang makin lama makin terkikis,” kata Afandi.

Para pelajar SMA sedang mengikuti latihan tarian adat Kao (tarian lala) yang digagas oleh Sanggar Seni Budaya Wola Kabata Kao. (Foto: Afandi/Fakta)

Menurut dia, Sanggar Seni Budaya Wola Kabata Kao masih dalam penjajakan khususnya pada generasi muda. Karena tarian adat yang di gemahkan selama ini hanya difokuskan pada acara serimonial saja, sedangkan pada acara pernikahan adat banyak remaja Maluku Utara khususnya di Desa Kao lebih suka dengan musik rege, joget dan dens, ketimbang musik tradisional seperti Gala, Lala, Kabata dan Cakalele.

“Coba anda lihat kalau ada cara resmi seperti hajatan nikahan, atau acara peresmian kegiatan dan sebagainya pasti yang ditampilkan musik rege atau musik disco ala dangdut. Padahal di negeri para raja-raja ini penuh dengan tarian-tarian tradisional seperti gala, lala, kabata dan cakalele. Itu yang saya heran kenapa generasi kita di negeri ini memilih mengabaikan seni budaya yang sudah wariskan pada kita ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Afandi mengajak para generasi khususnya kaum muda agar jangan terjebak pada musik jendre yaitu musik yang tidak mawariskan dari keturunannya. Lebih baik fokus pada seni budaya yang ada di Maloku Kie Raha ini.

“Saya mengajak para generasi muda mari kita sama-sama membangun dan mengharumkan nama baik Moloku Kie Raha dengan sama-sama membangkitkan kembali seni budaya tarian adat yang sudah lama hilang di negeri ini. Kita terus bangkitkan tarian-tarian adat ini dengan cara hidupkan sanggar budaya serta membuat kegiatan yang berkearifan lokal seperti tarian daerah yang ada negeri ini,” jelasnya.

Dua penari pelajar SMA sedang memperagakan tarian adat Kao (tarian lala) yang digagas oleh Sanggar Seni Budaya Wola Kabata Kao. (Foto: Afandi/Fakta)

Informasi yang dihimpun kegiatan ini baru pertama kali digagas dan rencananya akan di pentaskan pada tanggal 30 Oktober 2025 di Desa Kao, yang didalammnya akan di ikuti oleh para pelajar SMP dan pelajar SMA yang berusia 20 tahun.

Sementara tema yang diangkat dalam acara itu adalah “Bersama Belajar Berbudaya” yang dipusatkan di Sanggar Seni Budaya Desa Kao, Kecamatan Kao, Kabupaten Halmahera Utara.

Pentas seni budaya itu, akan menghadirkan peserta sebanyak 8 orang pelajar asal desa Kao. Sementara deklarasi SaSibu Woka’k Sanggar Seni Budaya Wola Kabata Kao akan digelar pada Selasa (28/10/2025).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *