Jakarta – Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo meminta pemerintah, khususnya Kementerian Imigrasi dan Kemasyarakatan, memberikan pernyataan tegas. Ini terhadap kemungkinan hadirnya atlet Israel pada ajang Kejuaraan Senam Artistik Dunia 2025 di Jakarta.
Menurut Yanuar, pemberian visa bagi atlet Israel bukan sekadar urusan administratif. Tetapi jaminan kedaulatan negara dan konsistensi kebijakan politik luar negeri Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan.
“Kementerian Imigrasi dan Kemasyarakatan tidak boleh membuka celah sedikit pun bagi masuknya atlet Israel. Pemberian visa adalah keputusan politik, bukan sekedar administratif,” kata Yanuar dalam keterangannya, Kamis (9/10/2025).
Ia menegaskan bahwa dasar hukum bagi pemerintah untuk menolak kehadiran atlet Israel sudah sangat kuat. Berdasarkan Pasal 75 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, pejabat imigrasi berwenang melakukan tindakan administratif.
Ini terhadap orang asing yang mungkin diduga membahayakan keamanan umum. Atau tidak menghormati kebijakan nasional Indonesia.
“Kebijakan luar negeri kita jelas berpihak pada Palestina. Oleh karena itu, izin masuk bagi warga negara Israel bertentangan dengan Amanat Konstitusi dan Hati Nurani Kemanusiaan,” ujarnya.
Yanuar pentingnya pentingnya koordinasi urusan. Ini agar tidak terjadi inkonsistensi kebijakan yang bisa menimbulkan persepsi Indonesia mulai bersahabat terhadap Israel.
“Kebijakan selektif harus dijalankan secara konsisten. Menolak visa atlet Israel bukan diskriminasi, tapi wujud nyata keberpihakan terhadap kemerdekaan Palestina,” katanya.
Disisi lain Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi, atau yang akrab disapa Gus Fahrur menyatakan izin bagi atlet Israel untuk bertanding di Tanah Air bukan hanya berpotensi menimbulkan polemik publik. tetapi juga mencederai amanat konstitusi Republik Indonesia.
“Izin bagi atlet Israel yang bertanding di Tanah Air berpotensi menimbulkan kegaduhan publik dan mencederai amanat konstitusi kita. Indonesia sejak awal berdiri telah menegaskan menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi,” kata Gus Fahrur.