Antananarivo – Situasi keamanan di ibu kota Madagaskar, Antananarivo kembali pulih setelah sebelumnya diguncang demo oleh anak muda atau gen Z. Demo besar-besaran di negeri pulau terbesar di Afrika itu berakhir rusuh dan menewaskan 22 orang Kamis (25/9/2025).
“Situasi di Ibu Kota Antananarivo, mulai berangsur pulih setelah kejadian demo 25 September lalu, walau belum 100 persen. Masa masih berkerumun di beberapa titik di ibu kota,” kata Lanang Seputro, kepada Pro3 RRI, Rabu (1/10/2025).
Lanang Seputro adalah Kepala Perwakilan/Kuasa Usaha Tetap Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Antananarivo, Mdagaskar. Mereka yang masih bekerumun terutama generasi muda yang menuntut perbaikan.
Lanang menjelaskan pasokan makanan di pasar tradisional tetap stabil dan super market kembali beroperasi sejak Selasa 30 September 2025. Pusat perbelanjaan sempat tutup selama tiga hari kini telah dibuka kembali
Pemicu demo ini adalah ketidakpuasan masyarakat atas kinerja pemerintah terutama pelayanan listrik dan air yang buruk. Pemadaman listrik dalam sehari berlangsung 12 jam, begitupula dengan pasokan air yang sulit diakses warga.
Gangguan listrik yang parah juga dialami diplomat asing di Antananarivo termasuk KBRI. Lanang bercerita, enam bulan terakhir, kondisi listrik semakin parah.
Hingga saat ini, tuntutan perbaikan akses listrik dan air terus disuarakan anak muda atau Gen-Z. “Generasi muda masih menuntut perbaikan listrik dan air,” ujarnya.
Sementara itu kondisi Warga Negara Indonesia (WNI) dalam keadaan aman dan tidak terdampak. Jumlah WNI di Madagaskar sekitar 60 hingga 70 orang yang tersebar di berbagai wilayah.
“Menurut catatan KBRI tidak ada WNI terdampak secara langsung. KBRI selalu membuka jalur komunikasi dengan para WNI di Madagaskar melalui WA , email dan media sosial,” ujarnya.
Sebelumnya, gelombang protes secara besar-besar di motori oleh anak muda atau gen-z. Mereka marah atas kondisi di Madagaskar yang semakin memprihatinkan.
Aksi unjuk rasa terjadi ibu kota Antananarivo dan kota lainnya seperti Antsirabe dan Toamasina. Polisi membubarlan massa dengan gas air mata.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melaporkan, sedikitnya 22 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka. Presiden Andry Rajoelina memutuskan membubarkan pemerintahannya usai didemo berhari-hari oleh anak muda.
Madagaskar meskipun secara geografis lebih dekat dengan Afrika, namun penduduk pulau itu lebih menyerupai orang Asia Tenggara. Bahasa yang digunakan pun banyak menyerupai dengan bahasa di Kalimantan dan Sulawesi.
Perpindahan orang Nusantara ke Madagaskar diperkirakan terjadi pada abad 9 Masehi pada masa Kerajaan Sriwijaya. Presiden Madagaskar Andry Rajoelina juga diyakini merupakan keturunan Indonesia dari Kalimantan.