Pemerintah

Era Digital, Mahasiswa Harus Punya Wawasan Bela Negara

×

Era Digital, Mahasiswa Harus Punya Wawasan Bela Negara

Sebarkan artikel ini
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan RI, Hasan Nasbi (kiri) bersama Pimpinan Yayasan Pendidikan Podomoro University, Dr. H. Serian Wijatno pada acara Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Podomoro University di Jakarta, Selasa (9/9/2025). (Foto: Dokumentasi Narasumber)

Jakarta – Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan RI, Hasan Nasbi mengatakan, wawasan bela negara menjadi penting dipelajari di era digitalisasi ini. Menurutnya, dengan kemajuan teknologi dan informasi yang pesat, ancaman-ancaman terhadap keutuhan bangsa dan negara dapat datang dari berbagai sumber.

“Dengan kata lain mahasiswa harus punya wawasan bela negara di era digital. Karena ancaman keutuhan negara datang dari berbagai sumber, termasuk cybercrime, disinformasi, dan propaganda,” kata Hasan dalam acara Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Podomoro University di Jakarta, Selasa (9/9/2025) petang.

Selain itu, lanjut dia, generasi muda khususnya mahasiswa juga harus bijak bersikap dalam era digitalisasi saat ini. Hal itu perlu dilakukan agar tidak terjebak pada hal-hal yang bisa menyebabkan disintegrasi bangsa.

“Karena dunia maya saat ini telah berada dalam rezim click bait. Bahkan, telah di penuhi disinformasi, fitnah serta kebencian,” ujarnya.

“Sadar atau tidak, smartphone telah menjadi rujukan utama dalam mencari informasi. Setiap informasi dianggap benar tanpa check dan recheck dan tak peduli darimana sumbernya,” ujarnya.

Bahkan, lanjut dia, akun pemberi informasi itu terverifikasi atau otoritatif serta objektivitas kerap dikesampingkan. “Karena diviralkan menjadi standar kebenaran,” ucapnya.

Hal itu, kata Hasan, menyebabkan terciptanya frustasi kolektif yang memicu runtuhnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Menurutnya, untuk melawan disinformasi, fitnah, dan kebencian di dunia maya, pemerintah sering merasa dilematis.

“Melawan disinformasi, fitnah, dan kebencian di dunia maya itu bagi pemerintah ibarat mengusir burung pemakan padi.  Jika dibiarkan maka kerja keras pemerintah akan habis dimakan burung, namun jika dilawan dengan keras kita akan dianggap membungkam demokrasi,” ujarnya.

Karena itu, Hasan mengajak mahasiswa untuk cerdas dalam membaca informasi di media sosial. “Di sini perlu partisipasi aktif masyarakat untuk mencari tahu informasi yang benar dan perlu diperhatkan kredibilitas dari sumber yang dibaca,” ucapnya, menjelaskan.

Pimpinan Yayasan Pendidikan Podomoro University, Serian Wijatno mengapresiasi paparan yang disampaikan Hasan. Untuk itu,  ia mengajak mahasiswa bersikap kritis dalam menyikapi disinformasi, fitnah, dan kebencian di dunia maya.

“Dengan cara seperti itulah mahasiswa bisa berperan membela negara. Mahasiswa yang memiliki wawasan bela negara dapat menjadi garda terdepan dalam menangkal ancaman-ancaman tersebut, ” kata Serian yang juga Ketua Dewan Pakar Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas).

Ia meyakini mahasiswa  dapat menggunakan teknologi digital untuk mempromosikan nilai-nilai kebangsaan dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Bahkan, mampu membangun komunitas yang kuat dan tangguh.

“Karena wawasan bela negara juga dapat membantu mahasiswa untuk menjadi warga digital yang bertanggung jawab dan menghindari penyebaran informasi palsu. Untuk itu wawasan bela negara menjadi sangat penting bagi mahasiswa di era digitalisasi demi menjaga keutuhan bangsa dan negara,” ujarnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *