BREAKING NEWSTimur Tengah

“Tidak ada Alasan Dihadapan Tuhan”, Kepala Madrasah Islam Iran Desak Israel Untuk Mengakhiri Pengepungan Gaza

×

“Tidak ada Alasan Dihadapan Tuhan”, Kepala Madrasah Islam Iran Desak Israel Untuk Mengakhiri Pengepungan Gaza

Sebarkan artikel ini
Yazan, seorang bocah Palestina berusia 2 tahun yang kekurangan gizi, terbaring di atas kasur di samping saudaranya di rumah keluarga mereka yang rusak di kamp pengungsi al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, pada 23 Juli 2025. (Foto: AFP)

Teheran – Kepala madrasah Islam Iran telah meminta para pemimpin agama di seluruh dunia untuk menuntut tindakan segera untuk mengakhiri pengepungan Israel atas Gaza, karena kelaparan yang dipaksakan membunuh warga Palestina dan akses kemanusiaan masih terblokir.

Dalam suratnya yang dilansir pada Jumat (25/7/2025) yang ditujukan kepada 26 tokoh agama terkemuka di seluruh dunia Muslim dan Vatikan, Ayatollah Alireza A’rafi mengutuk “kejahatan perang” Israel di Gaza dan mengatakan krisis kemanusiaan di sana merupakan ujian hati nurani bagi masyarakat internasional.

“Saya menyampaikan surat ini dengan hati yang berat karena kejahatan perang Zionis dan jiwa yang dipenuhi dengan persaudaraan Islam,” tulisnya.

Ayatollah A’rafi mendesak para pemimpin Islam untuk bersuara menentang penindasan sistematis di Gaza. “Penindasan yang sedang berlangsung di Gaza bukan sekadar krisis politik — tetapi juga merupakan ujian bagi ketulusan di balik persatuan yang diproklamasikan dan integritas hati nurani yang telah terbangun,” tulisnya.

“Di tengah api dan kelaparan, mata saudara-saudari kita di Gaza tertuju kepada Umat Islam,” tambah A’rafi. “Kelaparan seorang anak Muslim tidak hanya membuat air mata mengalir, tetapi juga tidak meninggalkan alasan di hadapan Tuhan.”

Di antara penerima surat tersebut adalah Paus Leo XIV, Syekh Ahmed El-Tayyeb, Imam Besar Al-Azhar, ulama senior Saudi Salih bin Abdullah al-Humaid, Imam Masjidil Haram (Masjid Agung Mekkah), dan Syekh Ali al-Qaradaghi dari Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS). Ulama dari Pakistan, Indonesia, dan India juga turut serta dalam surat tersebut.

Surat tersebut dikirimkan setelah pejabat kesehatan di Gaza mengonfirmasi bahwa setidaknya 10 warga Palestina meninggal dunia akibat kelaparan pada hari Rabu, sehingga jumlah kematian akibat malnutrisi sejak perang Israel dimulai pada Oktober 2023 menjadi 111—tertinggi dalam beberapa minggu terakhir. Di antara mereka terdapat 21 anak balita, menurut Organisasi Kesehatan Dunia.

Ayatollah A’rafi menyerukan para ulama dan cendekiawan untuk mengecam para tiran dan “meneriakkan seruan untuk rakyat yang tertindas.” Ia mendesak pemerintah-pemerintah Islam dan badan-badan internasional untuk segera bertindak guna mematahkan pengepungan dan membantu menyalurkan bantuan yang menyelamatkan jiwa.

Setidaknya 100 warga Palestina lainnya, termasuk 34 orang yang menunggu bantuan, tewas dalam serangan Israel hanya dalam 24 jam terakhir. Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa pasukan Israel telah menembak mati lebih dari 1.000 pencari bantuan di titik-titik distribusi makanan dalam beberapa bulan terakhir.

Meskipun bantuan menumpuk di luar perbatasan Gaza, akses tetap dikontrol ketat.

“Kelaparan massal” sedang menyebar, demikian peringatan koalisi 111 LSM, termasuk Mercy Corps dan Refugees International, yang menyalahkan pembatasan Israel.

“Berton-ton makanan, air bersih, dan pasokan medis terbengkalai di luar Gaza,” demikian pernyataan mereka, “sementara kelompok-kelompok bantuan diblokir untuk mengaksesnya.”

Pejabat PBB mengatakan Israel sepenuhnya menghentikan pengiriman barang ke Gaza pada bulan Maret dan hanya mengizinkan sedikit bantuan sejak bulan Mei, yang sebagian besar didistribusikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang kontroversial dan didukung AS.

“Kita tidak perlu menempatkan aktor bersenjata di dekat titik distribusi kita,” kata Ross Smith, direktur darurat Program Pangan Dunia PBB. “Itu persyaratan minimum untuk beroperasi.”

Sejak 7 Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan setidaknya 59.219 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Agresi yang sedang berlangsung telah meratakan sebagian besar wilayah Gaza, memaksa hampir seluruh penduduk Gaza yang berjumlah 2,2 juta jiwa mengungsi.

Sumber: Presstv.ir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *