Depok – Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menyebut bahwa Indonesia terlalu terlambat untuk membuat penulisan ulang sejarah. Sebelumnya, penulisan sejarah Indonesia terakhir kali diproduksi sejak masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie pada tahun 1999.
“Kita perlu pemutakhiran. Sejak tahun 1999 tidak pernah ada satu penulisan sejarah era kepemerintahan Presiden Abdurahman Wahid hingga sekarang,” katanya saat menghadiri ‘Diskusi Publik Draf Penulisan Buku Sejarah Indonesia’, Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jumat (25/7/2025).
Penulisan ulang buku sejarah Indonesia yang melibatkan 112 sejarawan ini masih dikatakan kurang banyak. Menurutnya, draf penulisan buku sejarah Indonesia yang saat masih dalam proses pengeditan berjumlah 550 halaman.
Lebih lanjut, ia mengatakan, buku sejarah yang telah memasuki 80 persen proses produksi ini dapat kembali meneruskan sejarah Indonesia berikutnya. Khususnya, pada proses kepenulisan sejarah Indonesia yang lebih tematik seperti sejarah perang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia juga menambahkan, banyak sejarah Indonesia yang belum dikaji secara mendalam oleh para sejarawan. “Saya kira ini adalah satu hal yang sangat penting karena kalau kita kehilangan sejarah, kita bisa kehilangan identitas dan jati diri kita,” ucapnya.
Saat ini, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) tengah melaksanakan ‘Diskusi Publik Draf Penulisan Buku Sejarah Indonesia’, Jumat (25/7/2025). Diskusi publik ini dilaksanakan di Universitas Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Negeri Makasar.
Sumber: KBRN