BERITA UTAMAFotografer

Benteng Oranje: Jejak Peradaban Dunia di Kota Rempah

×

Benteng Oranje: Jejak Peradaban Dunia di Kota Rempah

Sebarkan artikel ini
Gerbang Benteng Oranje Ternate. (Foto: RRI/KBRN)

Ternate – Cahaya matahari menembus celah-celah pohon trembesi, menyinari halaman yang tenang di tengah hiruk-pikuk Kota Ternate. Angin siang terasa hangat, membawa serta aroma laut dan nostalgia sejarah. Di kejauhan, hanya suara burung gereja yang terdengar, berkicau pelan dari sela-sela gedung tua.

Suasana sunyi itu perlahan mengantar langkah menuju gerbang Benteng Oranje sebuah bangunan yang berdiri kokoh di Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah. Menghadap ke timur, benteng ini seolah mengajak setiap pengunjung melintasi waktu, kembali ke masa ketika Ternate menjadi pusat dunia rempah-rempah.

Tembok-tembok tinggi yang menjulang dan bangunan tua yang masih terawat rapi menjadi saksi bisu kemegahan sejarah. Benteng Oranje, yang dibangun pada abad ke-17 oleh Portugis sebelum akhirnya dikuasai oleh Belanda, memiliki struktur trapesium dengan empat bastion di setiap sudut. Temboknya setinggi sekitar empat meter dengan kemiringan khas empat derajat desain yang dirancang bukan hanya untuk estetika, tapi juga pusat perdagangan dan pertahanan.

Di dalam area benteng, sejarah seakan berbicara lewat deretan foto yang mendokumentasikan perubahan Benteng Oranje dari tahun 1880 hingga 1920. Tak hanya itu, berbagai peninggalan berharga masih tersimpan di dalam museum yang berada di area benteng, memperkaya pemahaman tentang masa keemasan perdagangan rempah.

Sebuah gedung pernah dijadikan gudang rempah berupa pala dan cengkeh. (Foto: RRI/KBRN)

Salah satu ruang yang paling menyita perhatian adalah gudang yang pernah sebagai penyimpanan rempah. Bangunan ini masih berdiri kokoh dan menjadi simbol penting dari kejayaan Ternate sebagai poros perdagangan dunia.

Sekretaris Kebudayaan Kota Ternate, Rinto Taib menjelaskan bahwa Benteng Oranje memiliki posisi istimewa dalam sejarah global rempah-rempah.

“Ternate memiliki banyak benteng, tapi hanya Benteng Oranje yang dipilih oleh Dewan Hindia Belanda sebagai kantor pusat perdagangan rempah dunia. Jadi benteng ini bukan sekadar pemukiman Eropa, melainkan pusat kendali harga dan distribusi rempah ke pasar global,” jelas Rinto, Senin (6/7/2025).

Rinto yang juga sebagai Kepala Museum Rempah-Rempah Ternate menambahkan keistimewaan Benteng Oranje juga terletak pada arsitekturnya yang multifungsi bahwa dibandingkan dengan benteng-benteng lain di Maluku Utara, Benteng Oranje memegang peran strategis dalam sistem pertahanan sekaligus perdagangan.

“Desain arsitekturnya membedakan ruang-ruang berdasarkan fungsi. Ada ruang administrasi, penyimpanan, bahkan ruang pemukiman dan makam,” katanya.

Menariknya, salah satu bangunan yang dulu digunakan sebagai gudang rempah juga menyimpan makam tua. Hal ini menunjukkan bahwa benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat perdagangan pada masanya. Tetapi juga sebagai kawasan hidup, tempat masyarakat menetap dan membentuk komunitas.

“Ini membuktikan bahwa peran Benteng Oranje sangat luas. Tak hanya dalam politik dan ekonomi, tetapi juga dalam perkembangan ilmu pengetahuan serta peradaban,” tambah Rinto.

Sebuah gedung pernah dijadikan gudang rempah berupa pala dan cengkeh. (Foto: RRI/KBRN)

Benteng ini terasa hingga membentuk struktur sosial masyarakat Ternate. Komunitas multi-etnis seperti Bugis, Makassar, dan Kalimantan pernah tinggal dan hidup berdampingan di sekitar benteng, menciptakan harmoni budaya yang masih terasa hingga kini.

“Keberadaan Benteng Oranje sebagai pusat perdagangan rempah dunia jelas berpengaruh besar terhadap jaringan lokal dan kemajuan masyarakat,” kata Rinto.

Senada dengan itu, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Maluku Utara, Sahril Muhammad, menegaskan pentingnya Benteng Oranje sebagai warisan sejarah dan budaya memiliki nilai.

“Benteng Oranje bukan hanya saksi bisu sejarah Ternate dan Maluku Utara, tetapi telah menjadi ikon budaya yang merepresentasikan identitas daerah,” ujarnya.

Kini, setelah melalui proses restorasi, Benteng Oranje difungsikan sebagai museum sejarah dan budaya yang terbuka bagi masyarakat dan wisatawan. Di dalamnya dipamerkan artefak sejarah, dokumen lama, serta benda-benda peninggalan yang membentuk narasi besar tentang kejayaan Ternate.

Melangkah ke masa depan, Benteng Oranje memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Dengan pelestarian yang tepat, termasuk pengembangan wisata edukatif yang interaktif serta peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya situs sejarah, benteng ini bisa menjadi pusat pengetahuan dan inspirasi bagi generasi mendatang.

“Benteng Oranje tetap menjadi simbol penting yang menghubungkan masa lalu dan masa depan masyarakat Ternate, sekaligus melestarikan jejak peradaban dunia di Kota Rempah,” kata Sahril, mengakhiri.

Sumber: RRI Ternate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *