PBB – Duta Besar Iran untuk organisasi Persikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berpusat di Jenewa telah memprotes penahanan sewenang-wenang oleh Prancis terhadap Mahdieh Esfandiari, seorang warga negara Iran dan dosen universitas di negara Eropa, dan menyerukan pembebasannya segera.
Berbicara pada sidang ke-59 Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHRC) pada Kamis (26/5/2025), Ali Bahreini meminta pemerintah Prancis untuk membebaskan Esfandiari.
Ia juga menekankan perlunya masyarakat internasional untuk mendukung aktivis hak asasi manusia pro-Palestina, wanita dan anak perempuan yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk membebaskan Palestina dari pendudukan dan penindasan.
Profesor universitas berusia 39 tahun dan aktivis pro-Palestina telah lebih dari empat bulan ditahan sewenang-wenang oleh polisi Prancis di pinggiran Paris dan menjadi sasaran pelecehan dan penyiksaan.
Utusan Iran juga menyerukan intervensi segera dan dukungan mekanisme internasional seperti “Pelapor Khusus tentang Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan” dan “Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan” untuk menjamin pembebasannya.
Dalam pidatonya di hadapan 47 anggota dewan, yang memiliki misi untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia di seluruh dunia, Bahreini mendesak masyarakat internasional untuk terlibat dalam upaya yang lebih serius guna mendukung rakyat Palestina dan para pembela hak asasi manusia yang aktif di bidang ini.
Pengadilan Iran telah mengutuk penahanan Esfandiari sebagai “pelanggaran ilegal dan terang-terangan terhadap kebebasan berekspresi dan keamanan pribadi,” dengan mengutip Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik—keduanya telah diratifikasi oleh Prancis.
Kementerian Luar Negeri Iran juga mengecam penangkapan Esfandiari selama berbulan-bulan sebagai bentuk “penyanderaan” oleh pengadilan Prancis.
Esfandiari telah ditahan di pinggiran kota Paris sejak 28 Februari setelah menerbitkan pesan di saluran Telegram yang mengutuk genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza yang terkepung.
Selama dua hari setelah penangkapannya, tidak ada informasi tentang keberadaannya yang diungkapkan. Setelah teman-teman dan keluarganya terus-menerus menindaklanjuti, mereka baru mengetahui bahwa dia berada dalam tahanan polisi.
Esfandiari kemudian dipindahkan ke Penjara Fresnes, yang terletak di luar Paris.
Ia adalah seorang ahli bahasa dengan gelar sarjana bahasa Prancis dari Universitas Lumiere dan telah tinggal di kota Lyon, Prancis, selama delapan tahun terakhir. Ia bekerja sebagai profesor, penerjemah, dan juru bahasa di Universitas Lumiere.
Jarak 470 km antara Lyon dan Paris membuatnya sangat sulit bagi keluarga dan teman-temannya untuk memperjuangkan kasusnya atau memberinya bentuk dukungan apa pun.
Sumber: Presstv