Halteng,Faktainvestigasi – Di sebuah desa kecil bernama Loleo, Kecamatan Weda Selatan, Halmahera Tengah, hidup seorang pemimpin yang jarang muncul di media, tak gemar membanggakan diri, dan bahkan tak memiliki rumah pribadi. Namun justru dari kesederhanaannya itu, terpancar kekuatan luar biasa dari sosok bernama Ikbal Mahmud Kepala Desa Loleo yang telah mengabdi sejak November 2021.
Tidak banyak orang tahu siapa Ikbal Mahmud di luar wilayah Loleo. Tapi bagi masyarakat desa, ia bukan sekadar pemimpin. Ia adalah wajah harapan, tangan pertolongan, dan suara keadilan yang hadir setiap hari.
Ikbal tak pernah memimpin dari balik meja. Ia turun langsung, menyapa satu per satu warganya, mendengarkan keluh kesah mereka tanpa sekat. Seperti yang disampaikan Bripka Rudi, Bhabinkamtibmas Desa Loleo, “Beliau itu setiap hari keliling desa, hadir di tengah masyarakat. Bukan saat seremonial saja, tapi betul-betul hidup bersama rakyatnya.”
![]()
Namun di balik kepemimpinan yang penuh dedikasi ini, ada sisi kehidupan yang membuat hati siapa pun bisa terenyuh. Hingga tahun keempat masa jabatannya, Ikbal masih tinggal menumpang di rumah keluarga. Ia belum memiliki rumah sendiri. Ketika ditanya soal itu, jawabannya sederhana namun menyentuh:
“Biarlah saya dahulukan kepentingan warga. Rumah bisa nanti, kalau ada rezeki.”
Bukan karena tak mampu, tapi karena sebagian besar penghasilannya disisihkan untuk membantu masyarakat. Dari membiayai pendidikan anak-anak desa hingga membantu keluarga kurang mampu, Ikbal memilih untuk memberi, bukan menimbun. Semuanya dilakukan tanpa sorotan kamera, tanpa publikasi.
“Saya ini dulunya guru honorer, lalu sempat kerja tambang. Hidup saya biasa saja. Tapi saat diberi amanah jadi kepala desa, saya ingin manfaat saya terasa untuk orang banyak,” ujarnya pelan.
Dengan dana desa lebih dari Rp700 juta dan anggaran tambahan Rp1,7 miliar, Ikbal memprioritaskan pembangunan infrastruktur, pengembangan sektor perikanan, dan kawasan wisata. Ia memastikan anggaran tak sekadar habis di atas kertas, tapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Tahap pertama saja, 20% langsung diarahkan untuk mendukung para nelayan.
Di tengah tantangan, tekanan, bahkan cibiran yang terkadang datang, Ikbal tetap teguh. Ia tahu, jabatan itu bukan untuk mencari kenyamanan pribadi, tapi ladang pengabdian.
“Selama kerja kita jujur dan utamakan warga, semua bisa dijalani,” katanya yakin.
Dan ketika ditanya, apa yang menjadi sumber kekuatan dan motivasi dirinya? Ia hanya tersenyum, lalu menunduk sebentar, menjawab dengan satu kata yang membuat hati tergetar:
“Orang tua.”
Ikbal Mahmud mengajarkan kepada kita semua bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari fasilitas, popularitas, atau harta. Tapi dari seberapa tulus seseorang hadir untuk orang lain, dan seberapa besar hatinya untuk terus memberi.
Di tengah dunia yang bising oleh pencitraan, sosok seperti Ikbal adalah oase ketulusan. Pemimpin tanpa rumah, tapi hatinya cukup luas untuk menampung semua harapan warganya. (Faisal)