JAKARTA, FAKTA – Patroli laut Bea Cukai pernah menorehkan prestasi berupa penegahan 1,6 ton sabu di perairan wilayah Batam. Penegahan itu menjadi penegahan narkoba terbesar di Indonesia.
Peristiwa yang terjadi pada Februari tahun 2018 itu, masih lekat dalam ingatan Mat Fatoni. Kala itu dialah yang menjadi nakhoda Kapal BC 20007, kapal patroli Bea Cukai yang melakukan pengintaian dan penyergapan.
“Waktu itu kami mendapatkan panggilan mendadak untuk mengintai kapal yang sebenarnya sudah dipantau selama dua minggu. Pemantauan dilakukan sampai ke kepulauan Anambas dan Natuna,” kata Fatoni.
Sampai akhirnya keberadaan kapal itu berhasil disadap oleh intelijen Bea Cukai. Ciri-cirinya, kapal ikan berwarna biru asal bertuliskan aksara Tiongkok yang secara visual membawa tumpukan besi.
Karena mendapat panggilan mendadak, kata Fatoni, awak kapal hanya membawa delapan bungkus mie instan. Makanan yang hanya cukup untuk logistik sehari semalam.
“Kami melakukan patroli dan memantau kapal-kapal ikan yang melintas mulai habis Maghrib sampai jam satu malam. Tapi tidak terlihat kapal dengan ciri-ciri yang diinformasikan, tadinya kami mau balik untuk menambah ransum dan mengisi bahan bakar,” ucap Fatoni.
Tapi tiba-tiba ada kapal yang mencurigakan melintas, yang ciri-cirinya mirip dengan kapal yang dicari. Insting sebagai petugas patroli laut mendorong mereka untuk melakukan pemeriksaan ke kapal yang bersangkutan.
“Awak kapal tidak melakukan perlawanan, tapi tidak koperatif karena listrik di kapal itu dimatikan. Meski kami melakukan pemeriksaan dalam kondisi gelap, tapi insting kami mengatakan kapal inilah yang kami cari,” ujar Fatoni.
Akhirnya diputuskan kapal itu ditarik ke Sekupang untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tempat disembunyikan sabu-sabu akhirnya ditemukan setelah mengerahkan anjing pelacak, ada sekitar 81 karung yang ditutupi tumpukan tali.
“Untuk membongkar tumpukan tali yang digunakan untuk menutupi sabu-sabu, kami sampai menggunakan alat crane. Di balik tumpukan tali tersebut, terlihat karung-karung berisi sekitar 20 kemasan sabu, yang totalnya sebanyak 1,6 ton sabu,” kata Fatoni.
Kapal yang membawa sabu-sabu tersebut ternyata kapal dari Taiwan. Dan peristiwa itu menjadi peristiwa penegahan narkoba terbesar hingga kini.
Menjadi pasukan patroli laut, menjadi pekerjaan yang penuh tantangan dan penuh risiko, bahkan nyawa menjadi taruhannya. Sehingga dalam melaksanakan tugasnya, kru patroli laut kadang dilengkapi dengan senjata api.
Meski penuh risiko, sekarang pasukan patroli laut tidak lagi didominasi oleh laki-laki. Kaum hawa pun dilibatkan dalam kegiatan pengawasan, sebagai tim patroli laut yang disebut Ladies Squat.
Kiprah Ladies Squat Berpatroli di Laut
Salah satu anggota tim Ladies Squat Bea Cukai adalah Ema Susanti yang dikenal mahir bela diri dan menembak. Ema saat ini bertugas sebagai Ladies Squat di Tanjung Balai, Karimun.
“Pembentukan Ladies Squat patroli laut berawal saat penegahan di tahun 2019., ada kru perempuan di kapal yang ditegah. Petugas patroli laut tidak yang semuanya laki-laki tidak bisa melakukan pemeriksaan di atas kapal,” ujar Ema.
Setelah penegahan itu, dilakukan patroli terkordinasi dengan Bea Cukai Malaysia. Saat itulah muncul gagasan untuk melibatkan kru perempuan untuk patroli laut yang ditindaklanjuti dengan Program Dharma Bahari.
Dari situlah awal dibentukan Ladies Squat patroli laut Bea Cukai Indonesia. Filosofinya, dalam melakukan pengawasan, patroli laut tetap mengendepankan sisi humanisnya.
“Tujuan utamanya untuk mengantisipasi modus penyelundupan yang menggunakan perempuan sebagai pembawanya. Sehingga dirasa perlu menerjunkan kaum perempuan dalam pengawasan bukan hanya di darat, tapi juga di laut,” ucap Ema.
Anggota Ladies Squat lainnya adalah Rizki Intan Septiani yang akrab disapa Riris. Dia bertugas di Pangkalan Sarana Operasi Batam, sebutan Ladies Squat di PSO Batam adalah Srikandi.
“Pegawai perempuan dilibatkan dalam patroli laut juga sebagai implementasi pengarusutamaan gender. Dan saya berterima kasih karena perempuan juga diberi kesempatan untuk menjadi tim patroli laut,” kata Riris.
Riris pun menceritakan saat pertama kali diterjukan berpatroli di tahun 2022. Riris berlayar selama 14 hari dengan kapal BC 20007.
Saat melakukan patroli, timnya mendapati satu kapal yang tidak dilengkapi dokumen kepabeanan. Sebelum tertangkap, kapal yang dicurigai itu sempat mencoba melarikan diri namun berhasil disergap dengan menggunakan perahu karet.
“Setelah dilakukan pemeriksaaan, di kapal itu ditemukan 87 unit handphone, dua unit laptop, 11 sepeda bekas dan pakaian bekas. Semua barang-barang itu akan diselundupkan ke wilayah Indonesia,” ucap Riris.
Riris dan Ema hanya sebagian dari Tim Ladies Squat Patroli Laut yang dimiliki Bea Cukai. Dengan semangat slogan ‘Siaga, Berani, Setia’ menjaga perbatasan dan perairan Indonesia dari serbuan barang impor ilegal dan berbahaya.
KBRN/AD