Malam turun lebih cepat di Gunung Api Dukono.
Kabut tebal menyelimuti puncak gunung api yang sejak sebulan terakhir berstatus Level II Waspada itu. Hujan turun deras. Angin dingin menusuk lereng gunung.
Di tengah kondisi itulah, tim SAR terpaksa menghentikan evakuasi terhadap tiga pendaki yang belum ditemukan.
Dua di antaranya warga negara Singapura. Satu lainnya warga Indonesia.
“Kami sudah mengetahui titik keberadaan dua WNA tersebut, tetapi belum bisa dievakuasi karena cuaca buruk dan kondisi sudah malam,” ujar Kepala Basarnas Ternate, Iwan Ramdani, dalam konferensi pers di Polres Halmahera Utara, Jumat, 8 Mei 2026.
Sebelumnya, 20 orang diketahui mendaki Gunung Dukono. Sebanyak 15 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, terdiri dari tujuh WNA asal Singapura dan delapan warga lokal.
Mereka langsung dibawa ke RSUD Tobelo setelah mengalami luka akibat erupsi gunung.
Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua, turun langsung memastikan kondisi para korban.
“Kami memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan intensif,” katanya.
Pemerintah daerah bahkan menyiapkan penginapan sementara sebelum para korban dipulangkan ke Ternate dan Jakarta melalui koordinasi dengan pihak diplomatik Singapura.
Namun tragedi ini menyisakan ironi.
Gunung Dukono sebenarnya masih berada dalam status waspada. PVMBG telah mengeluarkan rekomendasi larangan aktivitas dalam radius tiga hingga empat kilometer dari kawah sejak 3 April lalu.
Tetapi rombongan pendaki tetap naik.
Tanpa laporan ke pos pemantauan.
“Kami tidak menerima informasi adanya pendakian,” ujar petugas PVMBG Mamuya.
Kini aparat kepolisian mulai menelusuri kemungkinan adanya kelalaian dari pihak pemandu dan porter.
Kapolres Halmahera Utara, Erlichson Pasaribu, menegaskan proses penyelidikan akan dilakukan.
“Jika terbukti lalai hingga menyebabkan korban jiwa, akan diproses sesuai hukum,” katanya.
Sabtu pagi nanti, pencarian akan kembali dilanjutkan.
Sementara di kaki Dukono, keluarga korban hanya bisa menunggu.
Menunggu kabut terbuka.
Dan berharap mereka yang tertinggal di puncak masih bisa pulang hidup-hidup. (Jef)