Jenewa, FaktaInvestigasi – Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) mencatat bahwa jumlah orang yang terpaksa mengungsi akibat perang, kekerasan, dan penganiayaan terus meningkat. Hingga kini, jumlahnya telah melebihi 122 juta jiwa di seluruh dunia, dikutip dari AP News, Jumat (13/6/2025).
Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar dua juta orang dibandingkan tahun sebelumnya dan hampir dua kali lipat dari total satu dekade lalu. Data tersebut dipaparkan dalam Global Trends Report yang dirilis UNHCR, Kamis (12/6/2025), berdasarkan penghitungan hingga April tahun ini.
Kepala UNHCR, Filippo Grandi, menyampaikan bahwa meskipun kondisi global memburuk, masih terdapat “cahaya harapan”. Salah satunya adalah kepulangan hampir dua juta warga Suriah ke tanah air mereka.
Kepulangan ini terjadi seiring upaya pemulihan negara tersebut setelah lebih dari sepuluh tahun dilanda perang saudara. Laporan itu juga menunjukkan bahwa jumlah pengungsi internal meningkat lebih dari 9 persen menjadi 73,5 juta orang pada akhir tahun lalu.
Total tersebut merupakan akumulasi dari konflik dan penganiayaan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Di antara mereka, ada yang berhasil kembali ke rumah, namun banyak juga yang baru saja terpaksa mengungsi.
Rilis laporan ini bertepatan dengan masa sulit yang dialami oleh organisasi-organisasi kemanusiaan. Kesulitan ini disebabkan oleh pemangkasan anggaran dari Amerika Serikat dan negara-negara donor Barat lainnya.
Dalam laporan tersebut, Sudan dinyatakan sebagai negara dengan krisis pengungsian terbesar di dunia saat ini, melampaui Suriah. Perang sipil di Sudan telah menyebabkan lebih dari 14 juta orang mengungsi, sementara jumlah pengungsi Suriah mencapai sekitar 13,5 juta jiwa.
Afghanistan juga menghadapi krisis serupa, dengan lebih dari 10 juta orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sementara itu, sekitar 8,8 juta orang telah mengungsi dari atau di dalam Ukraina akibat konflik yang berkepanjangan.
UNHCR menegaskan bahwa krisis pengungsian ini merupakan masalah global yang membutuhkan perhatian dan solidaritas internasional. Mereka menyerukan dukungan finansial yang lebih besar agar bantuan kemanusiaan dapat menjangkau para pengungsi secara optimal.
Tanpa dukungan tersebut, kebutuhan dasar para pengungsi, termasuk makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan, tidak akan terpenuhi. Laporan ini menjadi pengingat serius bahwa jika dibiarkan, krisis pengungsian akan membawa dampak jangka panjang terhadap stabilitas sosial dan ekonomi global.
Pengungsi yang kehilangan tempat tinggal berisiko menghadapi kemiskinan, kehilangan pendidikan, serta keterbatasan akses terhadap layanan dasar. Oleh karena itu, UNHCR menyerukan aksi nyata dan cepat dari masyarakat internasional untuk menghadapi tantangan ini secara kolektif.
KBRN