Halut, Fakta – Peserta pendidikan dan latihan (Diklat) Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Halmahera Utara Tahun 2024, menerima paparan materi tentang kewaspadaan dan ketahanan nasional. Materi yang diberikan guna menambah wawasan peserta Diklat selama dalam proses pelaksanaan Diklat.
Kabag Ops Polres Halut Kompol Yohanes Apipidely dalam paparan Diklat menjelaskan tentang soal kewaspadaan nasional dan ketahanan nasional kepada para peserta Diklat.
Yohanes menekankan bahwa, kewaspadaan nasional merupakan kualitas kesiapan dan kesiagaan yang dimiliki oleh bangsa untuk mampu mendeteksi mengantisipasi sejak dini dan melakukan pencegahan terhadap berbagai ancaman NKRI.
“Sedangkan ketahanan nasional merupakan kondisi dinamis suatu bangsa yang berisi ketangguhan dan kemampuan mengembangkan kekuatan untuk menghadapi ancaman,” kata Yohanes di Ruang Pertemuan Hotel Elisabeth, Desa Gamsungi, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Minggu (4/8/2024).
Tambah Yohanes nilai-nilai kewaspadaan nasional diantaranya cinta tanah air, sadar akan berbangga dan bernegara, menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara, dan rela berkorban untuk bangsa dan negara.
Sedangkan sifat-sifat Ketahanan Nasional meliputi sifat mandiri, dinamis, manunggal/integratif dalam sikap dan tingkah laku, wibawa dan kerjasama.
Dimana fungsi ketahanan nasional merupakan fungsi wawasan nusantara sebagai konsep Ketahanan Nasional dan juga konsep pembangunan nasional yang mencakup kesatuan politik, sosial, ekonomi serta pertahanan dan keamanan.
“Fungsi ini meliputi segala bidang, sehingga suatu negara atau Daerah dikatakan aman harus memenuhi beberapa unsur tersebut,” kata Yohanes kepada Peserta Diklat
Lanjut Yohanes, kewaspadaan nasional dan penanganan konflik meliputi sikap toleransi/saling menghormati, mediasi/koordinasi/fasilitasi/pembinaan, Kompromi/cara menyelesaikan perbedaan
dan pencegahan terhadap potensi ancaman
Ancaman terhadap negara, hambatan dan gangguan terhadap Ideologi Pancasila diantaranya extremisme dan radikalisme, inperialisasi budaya, globalisasi, kesenjangan sosial dan ekonomi, tindakan korupsi, propaganda dan konflik sosial dan politik. Serta ancaman bidang ideologi meliputi ancaman radikalisme ancaman terorisme dan ancaman komunisme.
Ancaman ancaman ini merupakan fakta yang terjadi sekarang di negara kita, sehingga diharapkan kepada peserta calon Paskibraka untuk dapat menyikapi hal demikian, sehingga tidak terjerumus karena berdampak negatif.
“Modus-modus yang dipakai untuk mempengaruhi seseorang itu disesuaikan dengan kondisi situasi yang ada, dan masuk dengan berbagai dan beragam cara yang dipakai,” ucapnya.
Dalam paparan materi Yohanes menjelaskan tentang Moto Hidup Paskibraka kepada para peserta Diklat diantaranya Ingarso Sung Tulundo (di depan memberi teladan), Ingmadyo Mangun Karso ( ditengah memberi semangat) dan Tut Wuri Handayani (dibelakang memberi dorongan).
Selain itu Semboyan Paskibraka diantaranya Paskibraka tidak takut salah, Paskibraka tidak takut kalah, Paskibraka tidak takut jatuh, Paskibraka tidak takut mati, dan Paskibraka pantang menyerah sebelum berhasil.
Yohanes juga sentil terkait alasan masuk Paskibraka diantaranya melatih kekuatan fisik, mental, disiplin, jiwa, kepemimpinan bagi setiap anggotanya.
Serta selama dalam Diklat Paskibraka peserta dituntut untuk melatih untuk tepat waktu, mengikuti gerakan yang benar’, kompak, mengikuti instruksi dan mendapatkan sertifikat.
“Jadilah Paskibra yang memiliki semangat dan patriotisme bagi Kabupaten Halmahera Utara,” tutup Yohanes dalam paparan materi.
Dalam kegiatan paparan materi itu di ikuti oleh peserta Paskibraka dalam Diklat, turut hadir juga, moderator kegiatan Fredrik Hape, Sekertaris Kesbangpol Halut Anwar M Naser, Kabid Penanganan Konflik Kesbangpol Halut, Ronald Djawali , para pembina, para pegawai Kesbangpol Halut.
YERI