JAKARTA, FAKTA – Pengamatan sistem kebumian yang terukur menjadi penting untuk dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim. Sebab saat ini suhu permukaan bumi meningkat sangat cepat setiap tahunnya yang berdampak buruk bagi seluruh mahluk hidup di Bumi.
Berdasarkan laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu permukaan global telah meningkat dengan cepat, dengan rata-rata tahunan mencapai 1,45 derajat Celcius pada tahun 2023. Padahal di tahun 2020 lalu, menurut laporan WMO tentang keadaan iklim global, kenaikan rata-rata suhu global adalah 1,2 derajat celcius.
“Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas, dan informasi ini hanya dapat diperoleh melalui pengamatan sistematis untuk fenomena kebumian. Tanpa pengamatan kebumian yang sistematis, informasi yang diberikan bisa menyesatkan atau salah, jadi pengamatan kebumian yang sistematis ini diperlukan baik di tingkat nasional, regional, maupun global,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam keterangannya yang diterima, Kamis (20/6/2024).
Lebih jauh ia mengungkapkan pengamatan sistematis sangat dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Diantaranya, untuk memberikan data dukung dalam aksi adaptasi iklim, aksi mitigasi iklim, atau keputusan atau kebijakan apa pun terkait mitigasi dan adaptasi iklim.
Pengamatan sistematis tersebut, ucap dia, harus juga diikuti oleh tindakan yang sistematis di segala lini. Guna dampak panas ekstrem tersebut dan dampak perubahan iklim lainnya dapat ditangani secara efektif.
“Analisis masa lalu merupakan cara untuk memvalidasi dampak dari peningkatan suhu yang berlangsung dan kondisi bumi kekinian. Selanjutnya, pada analisis lebih lanjut yang didasarkan pada data pengamatan sistematis dapat diketahui bahwa ternyata perubahan iklim memberi tekanan pada sumber daya air yang sudah langka, menghasilkan hotspot air,” ucapnya.
AAD/KBRN