Jemaah haji melempar jamrah aqobah di Jamarat, Makkah, Arab Saudi, Minggu (16/6/2024). Lempar jamrah aqobah merupakan salah satu syarat dalam ibadah haji. (Foto: Antara/Fakta)
MINA, FAKTA – Setiap tahun, ketika jutaan peziarah berkumpul di Mina untuk lempar jamrah, hanya sedikit yang berpikir soal kerikil-kerikil tersebut. Terutama setelah dilemparkan ke pilar-pilar tinggi menjulang, akan berakhir di mana batu-batu kecil itu?
Seperti dilansir dari Saudi Gazette, perjalanan batu-batu kecil ini merupakan operasi yang diatur secara cermat. Betul-betul mewujudkan perpaduan antara tradisi dan logistik modern.
Di jantung kawasan Jamarat, terdapat sistem canggih yang dirancang untuk menangani batu-batu yang digunakan untuk lempar jamrah, salah satu ritual penting dalam rangkaian haji. Menurut seorang pegawai Kedana, perusahaan yang bertanggung jawab memelihara Tempat Suci di Arab Saudi, prosesnya dimulai setelah jemaah menyelesaikan lempar jumrah pada hari pertama, kedua, dan ketiga.
Di dalam keajaiban arsitektur fasilitas Jamarat, yang memiliki tiga pilar dan memanjang di empat lantai dengan kedalaman mencapai 15 meter, kerikil itu turun bak hujan. Mereka jatuh ke ruang bawah tanah, berkumpul di area yang ditentukan saat fase berikutnya dimulai.
Di sini, ban berjalan mengambil batu-batu tersebut, memulai proses pembersihan yang melibatkan penyaringan dan pencucian. Ini untuk menghilangkan debu dan kotoran yang terkumpul selama penggunaan sucinya.

Setelah dimurnikan, kerikil ini diangkut ke fasilitas penyimpanan, menunggu untuk digunakan kembali atau ditangani dengan tepat setelah musim haji berakhir. Volume batu yang dikelola setiap musim sangat banyak, berkorelasi langsung dengan jumlah jemaah haji, yang menandakan adanya upaya logistik nan besar.
Menyadari tantangan fisik dan logistik yang dihadapi jemaah, perusahaan yang bertanggung jawab atas kerikil-kerikil ini mendistribusikan lebih dari 83.411 kantong di 300 titik di jalur pejalan kaki. Persisnya di rute Muzdalifah dan Jembatan Jamarat.
Distribusi strategis ini memastikan bawa setiap peziarah memiliki akses mudah terhadap kerikil yang dibutuhkan untuk ritual tersebut. Dengan begitu meringankan beban dan memungkinkan mereka lebih fokus ke aspek spiritual.

Pengelolaan dan daur ulang kerikil Jamarat yang cermat menjadi bukti integrasi sempurna antara tradisi dan modernitas. Hal ini memastikan kemurnian spiritual ibadah haji tetap terjaga, sekaligus mengatasi tantangan lingkungan dan logistik.
Pastinya upaya di balik layar ini lempar jamrah tidak hanya menjaga kesucian ritual tersebut. Namun juga mencerminkan rasa hormat dan kepedulian yang mendalam yang dimiliki Penjaga Dua Kota Suci.
ALDY/RRI